Kudus Group Agen Bola Rekomendasi adalah Bandar Agen Judi Bola SBOBET, Dapatkan Berita dan Informasi Update Prediksi Bola Akurat dan Promo Menarik Yang Hanya Bisa Anda Dapatkan di www.KudusGroup.com dan Berita.KudusGroup.com

Header Ads

WWW.KUDUSGROUP.COM dan BERITA.KUDUSGROUP.COM Kudus Group agen bola rekomendasi adalah bandar agen judi bola sbobet, memberikan prediksi bola akurat dan cerita esek esek

Wanita Spa Hamil

www.kudusgroup.com  -Sabtu awal bln, di pagi menjelang siang hri tepatnya jam 10 : 30 yg cerah, saya telah duduk di rumah makan serentak saji yg lumayan terkenal di Jakarta. Sesudah memesan makanan, kupilih ruang duduk dekat kaca, biar bisa menonton situasi diluar. Dari pantulan cermin saya menyaksikan di belakangku ada laki-laki & perempuan. Yg cowok sedang membaca surat info bersama posisi mengahadap kaca di sampingnya sedangkan wanitanya melahap makanan yg tersaji di hadapannya maka ga ada nada, cuma nada musik yg terdengar sayup-sayup.

Sebab saya nggak biasa sarapan pagi, menjadi sarapannya tak mampu segera, sedikit-sedikit yg mutlak masuk. Terlihat di belakangku mulai sejak ada pembicaraan, makin lama makin keras. Oh, nyata-nyatanya lagi ada pertengkaran, tetapi suaranya tak terlampaui keras. Bagus serta idenya apabila bertengkar cari area diluar rumah. Si perempuan cemburu pada pasangannya, namum disanggah oleh si laki-laki. Beliau tidak bisa jadi berseligkuh lantaran seluruhnya penghasilannya telah diberikan padanya.

Tiba-tiba kulihat diluar ada satu orang perempuan terjadi dgn sambil mengambil tas plastik merah. Nampaknya saya kenal. Saya ingat-ingat. Oh iya, itukan Mbak Indah. Kulihat jam menunjukkan jam 11 : 30, berarti mulai sejak berdatangan WP di depan rumah makan ini, tapi ini tetap yg juniornya alias yg baru lulus training. Saya telah tak memfokuskan ke pembicaraan orang di belakangku.

Tidak lama setelah itu sepeda motor berpenumpang melintas & menurunkan penumpangnya cocok di belakang kendaraanku yg kuparkir di seberang rumah makan & cuma 3 blok dari suatu panti pijat tradisional. Beliau turun & memberikan duit. Oh nyatanya naik ojek, itu kan Mbak Anita. Ketika Mbak Anna masuk, satu buah bajaj mogok lagi di belakang kendaraanku. Sesudah bajaj berlalu kelihatan Mbak Ayu, bersama langsung melangkah masuk. Lama kelamaan parkir sejak mulai penuh disekitar panti pijat, & tidak sedikit pengemudi masuk ke situ. Terlihat roda kehidupan di panti pijat mulai sejak berputar.

Tidak Dengan terasa suasana rumah makan sejak mulai ramai. Makananku juga telah mulai sejak habis. Saya pesan makanan penutup, sambil tak sedikitpun membuang pandanganku ke arah kurang lebih mobilku. Bukannya takut kehilangan mobilku, tapi di situlah rata rata para WP turun dari kendaraan yg mengangkut mereka – barangkali malu bersama “pengantar”nya bahwa mereka bekerja di Papitra, sedangkan yg naik bis tentu berlangsung kaki utk mencapai ruang bekerjanya.

Hri makin siang, telah menunjukkan jam 13 : 00. WP tetap berdatangan. Ada yg bujang & mungil, umumnya mereka memakai baju serba ketat atau cuma bawahannya saja yg ketat, kelak sesudah masuk mereka bakal memanfaatkan baju dinasnya yg tiap-tiap hri berganti warna tapi dgn model yg sama, memiliki bordiran nama di dada kanan sedangkan rok mininya ditulis nama WP bersama spidol di sektor dalam lipatan pinggang. Nah jam segini yg datang kebanyakan para senior-senior. Ada yg ke luar dari taksi sambil berkata dgn HP-nya. Demikian taksi yg menutupi pandanganku jalan, baru saya tahu bila itu Mbak Febby. Ada yg jalan kaki namun sambil berkata serta dgn HP-nya, apabila nggak salah ini Mbak Anna, dari tampilan mereka kebanyakan Telepon Selular yg difungsikan keluaran terupdate.

Tak berapa lama ada satu orang perempuan berpakaian ungu belia ke luar dari taksi. Demikian taksi berangkat, beliau jalan menuju ke Papitra. Siapa yah? orang barukah? kataku dalam hati sambil menyentuh daerah antara hidung & bibir atas dgn telunjuk kiriku – rasa penasaran & petualanganku mulai sejak tumbuh – dari penglihatanku umurnya kurang lebih kira kira 30 thn. Yg menarik yaitu pinggulnya pass agung. Seandainya berlangsung seperti bebek, megal megol, seperti orang hamil (??), apa mungkin saja orang hamil bekerja di Papitra?

Didorong rasa mau tahu, saya menelpon ke Papitra di depan rumah makan itu.
“Hallo selamat siang,” nada resepsionis.
“Siang Mbak Ani,” jawabku.
“Mau pesan, Pak Budi?” jelasnya, masihlah ingat namaku.

Mana bisa jadi lupa, khan tiap-tiap datang senantiasa dikasih duit tip. (Hati hati ada pengganti Mbak Ani, yg tiap-tiap mengembalikan duit jasa pijat senantiasa menyampaikan kembaliannya kurang sebab nggak ada duit mungil. Beliau cuma sediakan duit paling kecil 10.000,- menjadi di bawah nilai ini tak bakal dikembalikan – “pemerasan terselubung” alias tip maksa. Saya apabila berjumpa dgn orang ini, senantiasa saya membayar melalui WP, biar kembaliannya tak jatuh ke tangannya. Lebih baik jatuh ke tangan WP – khan ia yg “memeras”).
“Mbak Ani, yg baru saja baru masuk memanfaatkan pakaian ungu siapa sih?” tanyaku.
“Oh itu Mbak Desi,” jawabnya.
“Sepertinya kok lagi hamil, Mbak?” tanyaku sambil menebak.
“Emang bener, Pak,” jawabnya.
“Mbak Ani, sorry saya agen SBOBET terpercaya nanyanya agak-agak nih, jikalau lagi hamil pekerjaan, berarti cuma mijat dong?” tanyaku mendesak.
“Dalam kamar siapa yg tahu Pak?” jawabnya diplomatis, benar serta.
“Sudah ada yg pesan?” tanyaku, menjadi mau cobalah, lantaran rasa keingintahuanku.
“Belum, Pak Budi ingin pesan?”
“Iya deh.”
“Untuk jam berapa?”
“Hmm,” mikir dikit, beliau baru hingga, perlu istirahat, ketika makan siang telah melalui, yah 30 menit lumayan lah.
“Setengah jam lagi deh Mbak,” jawabku.

Desi

45 menit seterusnya saya telah tidak dengan pakaian cuma memanfaatkan CD dgn mengisi telah terhadap posisi. Tidur telungkup menghadap tembok di kamar lantai tiga ukuran 2×3 bersama penyejuk lokasi. Tidak lama tirai di buka & ditutup kembali.
“Selamat siang Pak,” sapanya.
“Siang,” jawabku sambil menolehkan muka ke arah atas, namun masihlah tidur telungkup.
“Mau minum apa?” tanyanya, sambil meletakkan barang bawaannya, handuk, sabun, sprei, & cairan pelicin buat pijat diatas satu-satunya sofa yg ada di ruangan itu.
“Air mineral nggak dingin,” jawabku. Dirinya ke luar & nggak lama mengambil yg kuminta.
Beliau tak menanyakan pijat berapa jam, lantaran saya berada di lokasi VIP yg memiliki kala minimal satu setengah jam.

Terdengar ia melepaskan seragam dinasnya (padahal suhu ruangan pass dingin). Menutupkan selembar handuk ke punggungku mulai sejak leher sampai pantat & mulai sejak memijit telapak kakiku. Setelah Itu saya tak menuturkan tahapan-tahapan pijat.
“Sebentar ya Pak, ingin ke toilet,” ijinnya.
“Ya,” jawabku singkat.

Diwaktu kembali beliau sejak mulai memijat kembali, bisa jadi terlampaui lama berdiri diwaktu memijat tadi, maka dirinya naik ke area tidur & memijat kaki sebelahku yg belum disentuhnya dari tadi. Setelah Itu dgn mengangkang ia memijat punggungku. Terasa pahanya dibungkus dgn celana ketat, disaat bersentuhan dgn pahaku.
“Kamu nggak sempat diisengin sama tamu, Mbak?” tanyaku.
“Itu sih tidak jarang Pak, santapan tiap-tiap hri!” menurutnya.
“Yang paling nyebelin seperti apa Mbak?” tanyaku.
“Belum lama ini ada tamu, diwaktu lagi nafsu dirinya bilang, Mbak ngentot yuk? saya jawab aja, sama siapa Pak? ia jawab ya sama anda, kirain sama kambing kataku, ngomongnya kasar banget,” jawabnya.

Bisa Jadi ada benarnya kata tukang gado-gado langgananku di blok Meter. Ia mengemukakan bahwa kelemahan perempuan ada di telinga. Artinya jikalau beliau disanjung, diajak berkata yg indah-indah, tentu bakal patuh. Menjadi bicaralah yg baik dgn perempuan siapapun ia, tentu jikalau anda minta sesuatu dengannya bakal diberikan.
“Maaf Pak, aku tinggal ke toilet lagi,” ijinnya.
“Ya,” jawabku singkat, membuyarkan lamunanku.
Nggak lama dirinya menyambung pijatan yg belum selesai. Sesudah menyelesaikan pijatan tadi, beliau berbicara.
“Pakai krim nggak, Pak?” tanyanya.
“He em,” kataku.
“Maaf Pak,” tuturnya sambil melipat CD-ku, menjepitnya ke celah-celah pantat, & bakal menutup sudut CD bersama handuk, namun.. “Tolong dilepas aja Mbak,” kataku. Beliau menarik handuk & melepaskan CD-ku. Nah telanjang deh saya waktu ini. Dirinya sejak mulai meratakan krim di semua permukaan kulit kakiku, & sejak mulai memijit, & sekian banyak menit seterusnya..
“Sebentar ya Pak, ingin ke toilet lagi,” ijinnya buat ke tiga kalinya.
“Ya” jawabku singkat, tidak dengan protes, dikarenakan saya memaklumi, sebab dikala hamil kandung kemih tertekan oleh kandungan, atau ada yg lain yg saya nggak tahu.
“Yah beginlah Pak bila keadaannya seperti ini,” tuturnya dikala masuk ke kamar.
“Aku maklum kok, Mbak,” jawabku.

Ia sejak mulai memijat kaki satunya lagi. Sesudah selesai dirinya mengeringkan krim bersama handuk, lantaran kakiku pass tidak sedikit bulunya beliau menaburi bedak bayi di seluruhnya permukaan ke dua kaki (bila dipandang nggak ubahnya seperti bayi yg habis mandi konsisten dibedaki), maka minyaknya bergabung bersama bedak, selanjutnya di gosok bersama handuk satunya lagi, akhirnya cukup kering.

Seterusnya dirinya naik ke ruang tidur (umumnya WP sanggup melakukannya dgn berdiri, barangkali sebab beratnya menahan perut maka tambah baik sambil agen casino terpercaya duduk di area tidur guna mengistirahatkan ke-2 kakinya). Perempuan lagi hamil mana ada yg menggunakan rok mini, kebanyakan senantiasa serba longgar kan, kecuali perempuan yg sekarang ada di atas pantatku.

Dikarenakan nggak ada lokasi lagi utk duduk, hasilnya beliau mengangkangiku maka beliau menduduki pantatku (original lho, duduk plek, soalnya berat banget) dgn berlapiskan handuk & sejak mulai mengolesi krim. Diwaktu sebelah kakinya diangkat utk mengangkang terasa pahaku bergesekan bersama paha sektor dalamnya yg licin & dingin. Tapi anehnya kok telah tak memanfaatkan celana ketatnya lagi.

Sesudah punggung rata dgn krim ia mulai sejak memijat. Posisi memijat merupakan maju mundur, mulai sejak dari pinggangku ke arah pundak. Lantaran gaya pijat & tumpuan duduknya terhadap ruangan yg tak rata biarpun dilapisi oleh handuk, lama kelamaan ia bergeser tepatnya terpeleset ke arah pangkal paha, kan ada sedikit seken krim juga berat tubuhnya yg cukup berat.

Ia mengembalikan posisi duduknya ke pantatku lagi. Dapat tapi tidak dengan handuk cuma beralaskan roknya. Selagi gaya maju – dikala mengurut dari pinggang ke arah pundak – beliau terpeleset lagi. Tatkala mengembalikan pantatnya ke pantatku telah tidak dengan handuk, dikarenakan irama pijatannya telah agak serta-merta, menjadi jika sebentar-sebentar ngurusin handuk nggak selesai-selesai mijatnya.

Makin langsung pijatannya, yg kurasakan bukan punggungku lagi, dapat tapi di pantatku ada sesuatu yg teramat kasar. Nyatanya roknya telah tak jadi alas buat duduk. Iseng, saya menoleh ke belakang bawah.
“Sudah, nggak usah lihat-lihat,” kata Mbak Desi, namun sekilas saya bakal menyaksikan ia jongkok dgn roknya telah di pinggang sementara diatas pantatku ada daging yg lumayan tebal tidak dengan bulu (dicukur) nggak seperti bagasi mobilku, lebih tepatnya nonong. Pantes pahanya kok licin, nggak gunakan celana!

Saya ikutin perintahnya, prajurit jejaka lebih mengandalkan tenaga, berhadapan segera, & menekan sebaliknya prajurit sepuh lebih mengandalkan pikiran, menghindari kontak serentak, condong mengikuti (bukan mengalah), akhirnya tidak jauh beda bersama yg belia hebatnya lagi tidak dengan ke luar tenaga.
“Kenapa kok nggak gunakan CD sih? Anda khan lagi hamil,” tanyaku.
“Habis capek tiap kencing mesti melorotin celana ketat. Tadi tatkala ke luar yg ke tiga udah kebelet banget menjadi tepat masuk nggak ketahan ke luar.
Yah telah basah, ingin gunakan cadangan ada di lemari bawah, naik turun kan capek Mas.

Tadi kencing mula-mula aja udah nggak sanggup jongkok,” jawabnya panjang lebar. Lihat, panggilan telah beralih. Artinya dirinya telah mulai sejak mengenal. Pantes ketika kontak bersama pahanya terasa dingin mungkin saja dari air dikala membasuh sesudah kencing.
“Memangnya mengapa? Khan ada toliet jongkok,” kataku.
“Toliet khan jorok Mas seken orang tidak sedikit, menjadi kencingnya sambil berdiri namun kakinya di buka lebar agar nggak kena,” jawabnya.
“Kamu nggak takut kerja tidak dengan CD?” kataku.
“Aku tadi dikasih tahu sama Mbak Anita, apabila Mas orangnya nggak reseh,” menurutnya.

Ha ha, belum tahu ia, jawabku dalam hati. Bisa Saja perubahaan panggilan tadi beralih sesudah ada sekilas informasi dari Mbak Anita. Sesudah selesai memijat punggung, beliau mulai sejak mengeringkan krim dgn trik seperti tadi.
“Mas balik,” tuturnya.

Saya serta-merta membalikkan badanku, sambil kulihat wajahnya, ia tak melihatku, namun menonton kemaluanku yg tetap
“bobo siang” sambil menutupnya dgn handuk mungil.
“kok dicukur Mas?” tanyanya sesudah menonton burung yg tidak dengan bulu.
“Kamu sendiri mengapa kok dicukur?” tanyaku.
“Kalau ditanya dijawab lalu dong Mas!” tuturnya.
“Yah agar bersih aja,” jawabku.
“Apa nggak geli Mas dicukur gitu?” tanyanya.
“Eh, anda nanya konsisten kapan jawabnya?” tanyaku. Dianya tersenyum.

Bibir sektor bawahnya (yg di wajah yah) pass tebal ada belahan di bidang tengahnya. Bibirnya dibalut pewarna berwarna pink, kontras bersama kulit putihnya. Matanya bulat sekali.
“Yah agar bersih serta. Kelak apabila sewaktu-waktu melahirkan, nggak buru-buru mencukurnya. Mas saya ke toilet lalu yah?” jawabnya sembari ijin yg ke empat kalinya.

Bila menonton posisi kandungannya sih udah dibawah, terlihat telah waktunya. Beliau masuk ke kamar, & naik ke atas area tidur, meminggirkan ke dua kakiku, maka mampu duduk di pinggi ruang tidur.
“Berapa umur kandunganmu?” tanyaku.
“Tujuh bln melalui, Mas,” jawabnya.
“Suamimu kok tega, udah seperti ini kok tetap disuruh kerja,” tanyaku.
“Lebih tega lagi Mas, beliau tak mengakui ini akhirnya, & berangkat demikian saja,” jawabnya sambil menunduk & konsisten memijat.
“kok nggak di batalin aja?” tanyaku lagi.
“Biarin deh Mas, umurku telah makin lanjut usia, kelak nggak ada yg ngurus saya. Biarin deh saya usahakan sendiri,” jawabnya tenang bersamaan bersama selesainya mengeringkan salah satu kaki.

Sesudah kering ia menggosok betisku yg berbulu bersama handuk, seterusnya mengangkangi kakiku tadi & menggosok pahaku dgn handuk, & terasa bulu betisku terasa bersaing bersama sesuatu yg kasar. Saya pura-pura tak tahu & kuperhatikan wajahnya tak beralih sedikitpun. Perubahan berlangsung di balik handuk yg menutupi kemaluanku, seperti ada yg sedang mendirikan tenda.

Dirinya memijat kakiku yg sebelah. Perlakuan yg sama bersama kakiku yg sebelah tadi. Serta program gesek-menggesek, maka semakin sempurnalah rubuhnya tenda. Yah, dalam posisi terlentang jikalau lagi “konak” nggak kemungkinan tegak sembilan puluh derajat, yg ada serta posisi jam sepuluh kurang sepuluh menit. Sesudah selesai dgn kaki, diturunkan handuk mungil sampai menutupi kemaluanku saja &..
“Perutnya dipijat Mas?” tanyanya.
“Terserah,” jawabku. Repot serta beliau dapat memijatnya, bila sambil berdiri beliau dapat capek seandainya dari samping membutuhkan tenaga yg pass tidak sedikit buat menekan badanku.
Yah terpaksa beliau mengangkangi kemaluanku yg cuma dilapisi handuk mungil. Sejak Mulai memijat dari arah perut ke atas melebar ke kira kira pundak. Perlahan-lahan, makin lama irama agak dipercepat.

Saya tak tau apakah percepatan di sebabkan prosedur pijatnya, ataukah gangguan di kemaluannya yg makin keras & berdenyut denyut. Di sengaja atau tak posisi batang kemaluan ku berada di sela sela bibir kemaluannya, cuma di pisahkan oleh handuk.
“Mas, kata Mbak Anita sama Mbak Anna, seandainya ke sini nggak sempat bermain, mengapa sih?” tanyanya.
“Yang pentingkan puas Mbak, nggak main-main aja puas kok,” jawabku.
“Kalau waktu ini saya mau main-main sama Mas, macam mana?” tanyanya.

Selama bicara begitu, handuk telah hilang yang merupakan pembatas. Hilangnya bukan ditarik namun terdorong oleh goyangan pantatnya. Menjadi antara batangku & bibirnya melekat.
“Berapa tips-nya?” tanyaku. Ia telah menggoyangkan pinggulnya, kesepakatan belum berlangsung tugas telah dimulai.

Yang Merupakan gambaran, bibir bawahnya cukup tebal & telah pass basah buat penetrasi, maklum hamil (orang hamil lebih langsung basahnya lantaran kelenjar yg memproduksi lendir tertekan oleh kandungan).
“Seperti yg Mas memberi bersama Mbak Anita atau Mbak Anna,” menurutnya. Wah dilarang dumping harga rupanya di sini.
“Ya, telah,” kataku. Demikian selesai saya berkata, bersamaan bersama sejak mulai masuknya kemaluanku ke dalam kemaluannya.

Ups, licin sekali (menjadi ingat bermain bola diwaktu mungil di tanah lapang dari tanah liat, nggak sempat mengambil bola jauh, senantiasa terpeleset terlebih kalau berjumpa lawan tentu jatuh) tetapi agak longgar, mungkin saja dikarenakan tekanan kandungan, & ada sesuatu yg menyentuh di ujung kemaluan seperti ada benjolan di sektor dalam kemaluannya. Nyatanya mulut rahimnya pun telah turun.

Beliau tak laksanakan aktivitas naik turun, barangkali telah terlampaui lelah, menjadi cuma bergoyang-goyang, tapi goyangannya makin lama makin merunduk, bak padi yg makin berisi, di kepalanya makin berat, terdongak ke belakang, sementara pahanya terbuka amat sangat lebar mengingat perut besar nya. Dirinya mengupayakan supaya klitorisnya bergesekan bersama bulu kemaluanku yg tumbuh kasar di atas batang kemaluanku. Sekian Banyak menit selanjutnya ia membalikkan badannya tidak dengan melepas batangku yg tertanam.

Kini ia menghadap ke kakiku. Aktivitas yg sama dirinya melaksanakan, tidak dengan naik turun, namun menekan juga menggesek lubang anusnya yg agak ke luar, bukan ambein lho, namun itu tekanan kandungan, maka lapisan bidang dalam anus yg lembut agen betting terpercaya tergesek oleh bulu kemaluanku. Beliau tak mengeluarkan nada, tepatnya menahan lenguhannya, biar tidak terdengar diluar kamar. Cuma deru nafasnya yg berfrekuensi tinggi, isap buang isap buang, seluruh dilakukan lewat hidung. Barangkali mulutnya dikunci dgn menggigit bibir bawahnya takut tidak sengaja ke luar nada.

Hasilnya tangannya meremas pergelangan kakiku & mengedan. Terasa sekali denyutan lubang anusnya. Tak berapa lama saya pula ke luar pula. Beliau diam sejenak menikmati semburan spermaku. Sesudah selesai, telah tiada semburan dirinya mengangkat pantatnya, & kala batangku telepas dari lubangnya, beliau mengupayakan menjepit labia minoranya bersama jarinya namun masih aja ada yg berjatuhan spermaku yg agak kental di kemaluanku.
“Banyak banget sih Mas?” tanyanya, sambil membersihkan vaginanya yg tembem banget & nonong, namun masihlah mengangkang diatas kemaluanku.
“Iya udah lama ni nggak di keluarin,” jawab ku, sambil membersihkan sperma ku yg berjatuhan.
“Kamu gemar nyabuu? tanyanyaa sambil turun darii ruang tidur bersama teramat hati hati.
“Suka nyabu rumah, nyabu halaman, jawab ku. Ia tersenyum.
“Maksud ku narkoba,” menurutnya.
“Nggak, mengapa sih?” kataku.
“Pantes. Udah ke luar kok nggak mengecil, masihlah akbar & keras,” tuturnya.
“Sok tahu” kataku.
“Eh iya lho Mas, saya punyai tamu beliau habis nyabu (saat ini telah menjadi trend memanfaatkan narkoba di kamar Papitra, kadang dgn WP-nya) aduh setengah mati saya ngeluarin pejunya,” tuturnya polos.

Wah habis “O” ngomongnya udah nggak terkontrol nih sih Mbak. Dikala saya bangun benar-benar sih kemaluanku tetap keras & berdiri cuma sembilan puluh derajat ditunjang dgn sekian banyak urat yg menonjol.
“Terima kasih yah, Mbak. Anda lagi hamil gini, seluruh tamu anda perlakukan seperti ini seluruhnya?” tanyaku.
“Yah nggak Mas, kebetulan saya udah lama nggak ngewe, konsisten saksikan miliki Mas keras banget, udah gitu saya sanggup berita dari Mbak-Mbak apabila anda jikalau ke sini nggak sempat bermain, namun bayar penuh, artinya khan Mas orang bersih.”
“Oh, menjadi di kamar tunggu WP, tidak sedikit saling pindai info yah?”
“Harus itu, supaya kita nggak salah, yg lebih mutlak lagi ini,” menurutnya sambil menunjukkan leleran sperma yg meleleh ke luar dari vaginanya.
“Maksudmu?” kataku nggak mudeng.
“Aku taruhan sama Mbak-Mbak yg sempat sama Mas, pass sepuluh ribuan sepuluh orang, ini juga sebagai bukti bahwa anda main-main sama saya,” tuturnya.
Ha, kaget saya. Wah gila saya dijadikan obyek judi, basic.
“Sebentar Mas, saya ke toilet,” jelasnya. Aduh bukan tamunya yg didulukan, malah dirinya yg duluan.
Nggak lama dirinya masuk, &..
“Nih saya bawain handuk yg baru,” tuturnya bersama wajah yg nampak seneng banget.
“Katanya nggak kuat naik turun, kok telah bawa handuk bersih dari bawah?” tanyaku.
“Khan minta tolong sama room boy,” tuturnya.
“Nah tadi ngambil CD minta tolong aja sama dirinya,” kataku.
“Nggak enak lagi Mas kelak dikira macam-macam, lagian khan tadi belum ada bekal untuk nyuruh room boy,” tuturnya.
“Maksudnya?” tanyaku lagi.
“Khan menang taruhan, yah bagi-bagi rejeki. Saya kasih duit room boy-nya buat ambil handuk, mereka apabila nggak ada uangnya nggak gerak Mas!” tuturnya. Saya geleng-geleng.
“Iya setali tiga duit sama anda, jika nggak ada duit serta nggak goyang,” kataku namun dalam hati.
“Mbak Desi, kok anda duluan sih ke kamar mandi?” tanyaku sambil menggunakan kimono & mengambil handuk pula sabun.
“Aku tadi buru-buru ke sebelah ngasih tahu sama Mbak Anita, seandainya ia kalah taruhan bersama menunjukan sperma Mas yg ngucur dari memekku,” jelasnya.

Waduh udah bernoda nih mulut Mbak Desi, barangkali terlampaui gembira dgn kemenangannya & “O”-nya.
Sesudah mandi, berpakaian & memberikan anjuran, saya bilang, “Kamu mampu tiga saya Hanya satu lho, Mbak!” kataku.
“Iya deh, lain kali saya kasih bonus,” jelasnya, tahu maksudku jika beliau akan petunjuk, menang taruhan & “O”-nya.
“Janji yah, terimakasih Mbak,” kataku, sambil saya cium pipi kiri & kanannya.
Disaat turun ke depan resepsionis Mbak Desi mengikuti di sampingku, guna berikan tahu ke resepsionis berapa jam & minum apa.

Saya bayar tagihanku & tidak lupa kuberikan lebihan untuk Mbak Ani.
“Terima Kasih Pak,” tuturnya. Dikala saya membalikkan tubuh buat menuju pintu ke luar, sekilas saya menonton sekian banyak pasang mata di tempat tamu memandang bergantian antara saya & Mbak Desi.
Apa ada yg aneh? Oh bisa jadi saksikan perutnya Mbak Desi yg nonong sementara tamunya tampak “segar” sekali.

www.kudusgroup.com
PIN BBM (BLACKBERRY) : 7BBCF604
NO TELP              : +855 16 675386
WHATSAPP             : +855 16 675386
WECHAT               : kudusgroup
LINE                 : kudusgroup
GMAIL                : kudusgroup@gmail.com
YAHOO"MESSENGER      : cs.djarumgrup

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.