Kudus Group Agen Bola Rekomendasi adalah Bandar Agen Judi Bola SBOBET, Dapatkan Berita dan Informasi Update Prediksi Bola Akurat dan Promo Menarik Yang Hanya Bisa Anda Dapatkan di www.KudusGroup.com dan Berita.KudusGroup.com

Header Ads

WWW.KUDUSGROUP.COM dan BERITA.KUDUSGROUP.COM Kudus Group agen bola rekomendasi adalah bandar agen judi bola sbobet, memberikan prediksi bola akurat dan cerita esek esek

Fanfic Arumi Bachsin “RUN AWAY”

www.kudusgroup.com  -“Kalo kamu tidak bisa menerima apa keputusan papa, lebih baik kamu keluar dari rumah ini. Dan saat kamu keluar dari rumah ini, kamu bukan lagi anakku! Camkan itu baik-baik!”
“Ooh, fine… ok! Gue keluar sekarang juga dari rumah terkutuk ini, kalau itu maunya papa. Maaf tuan Handoko yang terhormat, selamat malam…”

Pertengkaranku dengan papaku yang semakin menjadi dan bertambah sengit malam itu. Sebagai manusia normal yang masih punya hati nurani, tentunya tak akan bisa menerima dan ikhlas begitu saja dengan ini semua. Menerima papa menikah lagi sementara pusara almarhum mama belum juga kering. Tapi… itulah kenyataan yang harus aku hadapi. Secara sepihak dan semena-mena, papaku, tuan Handoko yang terhormat, menikah lagi saat belum genap 100 hari meninggalnya almarhum mama karena sakit kanker otak yang di deritanya.

Entah apa sebenarnya yang ada di dalam pemikiran papa. Tak bisakah dia meluangkan waktu sejenak untuk sekedar berkabung mengenang kepergian almarhum mama, sebelum memutuskan untuk menikah lagi. Tanpa pemberitahuan atau musyawarah terlebih dahulu dengan aku sebagai anak tunggalnya, papa tiba-tiba saja memperkenalkan seorang wanita yang katanya istri barunya sebagai pengganti almarhum mama. Sementara masih jelas terngiang dan terbayang segala kenangan manis bersama almarhum mama yang tak akan pernah bisa aku lupakan atau tergantikan. Dan pada saat seperti itu aku harus bisa menerima dan mengakui wanita jalang itu sebagai pengganti almarhum mama. Tak semudah itu aku bisa menerimanya. Apalagi di saat aku masih berkabung sepeninggal almarhum mama seperti ini. Di saat segala memory indah itu masih jelas terasa.
Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menerima dan mengakui wanita jalang itu sebagai pengganti almarhum mama. Sampai mati mamaku tak akan pernah terganti. Walaupun itu harus aku bayar mahal dengan keluar dari rumah ini, meninggalkan segala kemewahan ini, dan tak lagi diakui oleh tuan Handoko yang terhormat sebagai anaknya, aku ikhlas. Yang pasti, sampai matipun aku tak akan sudi menerima ini semua. TIDAK…!!!

Fine, aku terima kalau itu maunya tuan Handoko. Yang jelas, sampai kapanpun aku tak akan pernah berubah, aku tak akan pernah menerima dan mengakui pernikahan ini. Sekali lagi kupertegas, aku tak akan pernah mau mengakui pelacur bangsat itu sebagai istri papaku.
Oh maaf, tuan Handoko.

Mama, maaf aku harus pergi. Aku tak bisa berlama-lama berada di rumah terkutuk ini. Mama tenanglah beristirahat di alam sana, mama akan selalu berada di hatiku, dan selamanya mama tak akan pernah terganti. Beristirahatlah dalam damai, ma… love you mom…

Bergegas aku keluar dari rumah terkutuk itu setelah berpamitan pada potret mendiang mama yang terpajang indah di tembok kamarku. Dengan berbekal uang seadanya dan beberapa potong pakaian di dalam tas ransel, aku langsung menggendarai motor antik kesayanganku pergi dari rumah yang dulu menjadi rumah bahagiaku, tanpa arah dan tujuan yang pasti. Terpaksa aku harus pergi meninggalkan rumah yang dulu pernah menggoreskan kenangan indah tentang sebuah keluarga kecil bahagia bersama almarhum mama tercinta.

Mau kemana aku setelah ini? Akupun tak tahu harus kemana. Kalaupun aku harus hidup di jalanan, sepertinya itu lebih baik daripada harus tinggal dengan segala kemewahan dan menyaksikan perempuan jalang itu berada di tengah-tengah kami mengantikan posisi mama sebagai istri dan nyonya tuan Handoko. Tuan yang beberapa saat yang lalu adalah papaku, dan sekarang tuan handoko adalah mantan papaku.
“Aaaaaahhhh… bangsaaaattt…!!!” Mengendarai motor antik Honda cb 100 full modif boober warna hitam kesayanganku hadiah ulang tahun dari almarhum mamaku tercinta, aku menyusuri jalanan kota Jakarta di bawah langit malam yang sedang mendung tanpa arah dan tujuan pasti.

oh… kenapa langit pun seakan ikut bersedih dan meratapi. Akhirnya hujanpun turun dengan derasnya meneteskan air matanya membasahi bumi pertiwi. Deras hujan yang membasahi tubuhku, mengaburkan air mata yang tak kalah derasnya mengalir dari sudut sudut bening mataku.

“Menangislah bila harus menangis. Menangislah lepaskan segala beban jiwamu. Caci makilah dunia terkutuk ini sepuas hatimu!” coba kukuatkan hati dan jiwaku yang sedang terluka parah terpuruk goyah.

Dengan badan basah kuyup, aku masih terus memacu motorku menembus lebatnya belantara hujan. Tak kuhiraukan lagi ragaku yang menggigil kedinginan karena basah air hujan dan dinginnya malam. Yang ada di dalam benakku saat ini hanyalah pergi dan lari sejauh mungkin, jauh tanpa harus bersinggungan atau berhubungan lagi dengan keluarga tuan Handoko. Atau bila perlu dan mampu, aku ingin lari dari dunia terkutuk ini. Biarlah aku hidup dengan jalanku sendiri. Biarlah aku jalani hidup ini dengan apa mauku, dengan segala kenangan indah almarhum mama yang terpatri suci di sanubariku, dan dengan segala dendam kesakitanku. Seumur hidup aku akan selalu dan menjaga dendam. Rasa sakit ini terlalu dalam menyayat melukai hati dan jiwaku.

Malam semakin larut dan hujanpun belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Dengan badan basah kuyup kedinginan, kuhentikan motorku di sebuah warung kopi tenda tepi jalan yang berada di emperan sebuah toko yang sudah tutup. “Kopi item, bang… yang pait ya…” kataku.

Sambil menunggu kopi pahit pesananku siap, aku mendorong motor antikku naik, meneduhkannya di pojok emperan toko itu. Kutanggalkan jaket kulit hitam yang kukenakan sambil mengeringkan badanku yang basah kuyup oleh air hujan. Kugerai rambut panjang sepundak bergelombangku dan mencoba mengeringkannya.
“Kopinya, mas…”
“Oh iya… makasih ya, bang.” langsung tanpa basa-basi aku seruput kopi pahit nan panas itu sambil menikmati sebatang rokok filter ketengan yang dijual di kedai kopi tersebut. Kapi pahit ini ternyata masih lebih manis dari derita dan kesakitanku, panas kopi ini ternyata tak sepanas luka hatiku. Aku duduk bersila di pojokan emperan toko itu, melamun merenungi pahitnya derita hidup dan kecewa yang harus aku alami.

Oh iya, hampir lupa. Namaku Andika Bayu Handoko, biasa dipanggil Dika, dan aku baru berusia 21 tahun. Sebelum sepeninggal almarhum mama dan huru-hara yang terjadi saat ini, hidup yang aku jalani sangatlah bahagia dan indah. Aku lahir dan besar di tengah tengah keluarga kecil bahagia yang sangat berkecukupan dan hormonis. Tak hanya itu saja. Aku juga di anugerahi dengan fisik dan penampilan yang sempurna.
Wajah bermata tajam berhidung mancung, sudut-sudut wajah tegas nan gagah semakin merupawankan paras ketampananku. Postur tubuhku yang lumayan tinggi tegap dengan body atletis semakin menunjang kesempurnaan fisik lelaki yang menjadi idaman para gadis-gadis, yang membuat mereka semakin menggilaiku. Dengan rambut ikal panjang sepundak ala Ali Topan, semakin mempertegas kesan cool dan machonya aku. Akulah mungkin gambaran nyata Ali Topan masa kini.

Walaupun aku hidup di tengah-tengah keluarga yang sangat berkecukupan, tak pernah ada sedikitpun dalam benakku hasrat untuk memamerkan atau menyombongkan semua itu. Aku lebih senang menggunakan dan membanggakan motor klasik CB 100 kesayanganku kemana-mana, dari pada mengendarai mobil-mobil mewah yang berderat terpajang di garasi rumahku. Dan saat ini aku tercatat sebagai seorang mahasiswa semester 4 di sebuah unifersitas terkenal di Jakarta.

Kehidupanku yang dulu indah itu sekarang lenyap sirna begitu saja seakan tak berbekas sama sekali.
Pandanganku melayang menyapu ke sekaliling, mencoba mencari tau di mana sekarang aku berada. Hari sudah semakin larut malam dan hujanpun masih saja turun dengan derasnya menyirami tanah bumi pertiwi, seolah sedang ikut menangis dan meratapi kesakitanku.
“Maaf, mas… udah mau tutup, mas.” kata sang abang tukang kopi sambil mengambil gelas bekas kopiku yang sudah kosong.
“Gak sampai pagi, bang?”
“Biasanya sih sampe pagi, mas. Tapi kayaknya hujannya gak bakalan reda ni mas, malah makin deres tu. Mendingan tutup ajalah, mas. Lagian juga sepi banget ni.”

Aku bisa mengerti. Akupun membayar kopi dan rokok yang tadi aku ambil sembari membantu sang abang tukang kopi beres-beres menutup lapak tendanya.

Dan setelah kepergian sang abang tukang kopi itu, sekarang aku benar-benar sendirian berteduh di emperan toko itu. Untung saja aku punya sebungkus rokok gudang garam filter buah pemberian sang abang tukang kopi tadi karena sudah mau membantu menutup lapaknya. Lumayanlah untuk teman iseng di tengah deras hujan dan dinginnya malam ini.

Saat aku sedang asik melamun sambil menghisap sebatang rokok filter, tiba-tiba saja ada seorang gadis muda berlari di tengah hujan yang deras dan tanpa permisi terlebih dahulu langsung bersembunyi di belakang motorku yang terparkir di sudut emperan toko yang gelap. Sesaat tatapan mata kami beradu.

Terlihat raut wajah ketakutan dari gadis itu seakan sedang ada sesuatu yang mengejarnya. Gadis itu mengatupkan kedua telapak tangannya, seakan memohon sesuatu kepadaku yang entah apa itu.

Tak lama berselang, terlihat dua orang pria berbadan kekar yang terlihat seperti bodyguard berlari di tengah derasnya hujan, seakan juga sedang mengejar sesuatu.
“Mas, lihat ada cewek baju item lari lewat sini gak?” tanya salah satu dari pria berbadan kekar tersebut.
“Kurang tau tuh, bang.” jawabku spontan yang entah mengapa aku berbohong. Padahal aku tahu dengan pasti, bahwa cewek yang kedua orang ini maksud sedang bersembunyi di kegelapan pojokan di balik motorku.
“Tolong jangan bohong, mas.” tanya pria itu lagi yang sekarang ditambahi dengan sorot mata tajam seakan menantang.
“Kenapa, bang, kok pake melotot segala? Kalo gue bilang gak tau ya gak tau, bang!” balasku sambil beranjak berdiri dari dudukku seolah menjawab tantangan pria berbadan kekar itu.
“Udah lah, ntar aja… kita kejar ke sono aja yuk.” ajak teman pria tersebut. Kemudian kedua pria tersebut pergi sambil masih diiringi dengan tatapan matanya yang seakan menantang itu.
“Makasih, mas…” arti penafsiranku akan isyarat telapak tangan gadis itu dengan tubuhnya yang menggigil basah kehujanan setelah kedua bodyguard itu telah jauh pergi.


Aku hanya membalas ucapan isyarat terima-kasih gadis itu dengan sebuah anggukan dan senyuman kecil. Lama gadis itu sembunyi di balik motorku, dan akupun kembali duduk di tempatku dan kembali menikmati sebatang rokok untuk mengusir dinginnya malam. Kulihat gadis itu menggigil kedinginan dengan pakaiannya yang basah kuyup. Pakaiannya yang basah dan serba mini (hot pants dan tank top warna hitam) tak mampu melindungi tubuh mungilnya dari dinginnya angin malam saat hujan ini. Timbul rasa iba akan keadaan mengenaskan gadis muda itu.

Kuambil sepotong sweter dari tas ranselku yang kedap air, dan kuberikan kepada gadis yang sedang menggigil kedinginan itu. “Pake nih…” kataku sambil menyerahkan sweter kelabu itu.

Gadis itu menerima sweter kelabu pemberianku, tapi bukannya langsung memakai sweter yang kuberikan, gadis itu malah menatapku dengan lekatnya dengan tatapan mata sayu yang sulit untuk diartikan.
“Pake… kedinginan tu kamu.” aku berkata lagi. “Oh iya… ok, gue balik badan. Tenang aja, gue gak bakalan ngintip kok.” kataku sambil membalikkan badan membelakangi gadis itu.

Sampai di sini masih belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis muda itu. Hanya melalui tatapan matanya dan penafsirankulah kami berkomunikasi. Saat aku sedang berbalik membelakanginya, gadis itu mengganti pakaiannya yang basah dengan sweter kelabu yang aku berikan. Setelah gadis itu selesai berganti pakaian, aku pun kembali berbalik ke arahku semula dan kembali menikmati sebatang rokok filter.

Malam semakin larut dan hujanpun sudah reda. Bergegas aku memakai kembali jaket kulitku yang sudah lumayan kering, kembali bersiap melanjutkan perjalanan tanpa arah dan tujuanku, meninggalkan gadis muda itu sendirian di emperan toko tempat kami berteduh. Kuambil motorku yang di pakainya sebagai tempat persembunyian, kunyalakan dan bersiap kembali melaju menembus kegelapan dan dinginnya malam.

Tapi ada sesuatu yang menggangguku. Saat aku hendak memacu motorku, tiba-tiba saja gadis muda itu meloncat naik di boncengan motorku. “Eh, mbak… apa-apaan ini? Maaf ya, gue harus pergi.”
Gadis itu tak mengindahkan omonganku dan masih diam duduk di boncengan motorku.
“Mbak, maaf ya… tolong turun, mbak.” kataku lagi sambil mematikan mesin motorku dan turun dari motor.
Gadis itu masih saja diam tak menjawab. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis itu. Hanya tatapan mata sayu misteriusnya yang seakan menjawab setiap perkataanku.
“Mbak maunya apa sih? Udah deh, mbak… gue mo pergi dan gue gak bisa bawa mbak. Gue mohon mbak turun dari motor gue ya… please, mbak. Lagi pula mbak kan gak kenal siapa gue kan? Kalo gue pemerkosa ato pembunuh gimana coba? Mau mbak gue perkosa, hah?!” hardikku semakin kesal karena tak bisa menurunkan gadis itu dari motor CB 100 boober kesayanganku.

Semua usahaku itu tenyata hanyalah sia-sia belaka. Gadis itu masih saja diam tak menjawab dan masih diam duduk di boncengan motor antikku.
“Heeeehhh… damn it! Up to you lah…” umpatku putus asa. Dengan hati yang kesal, kupacu motor kesayanganku itu meluncur menembus dinginnya kegelapan malam dengan membawa si gadis misterius itu di boncengan motor CB boober kesayanganku.

Lama kami berpacu di atas dua roda si boober, berjalan tanpa arah dan tujuan tanpa saling bertegur sapa. Tak terasa matahari mulai mengintip dari ufuk timur. Dan tanpa aku sadari juga ternyata aku telah sampai di perbukitan perkebunan teh di daerah puncak bogor. Kuhentikan motorku di pinggir jalan dengan pemandangan hamparan kebun teh yang menghijau berhiaskan butiran embun dan berselimut kabut tipis yang menjadikannya semakin elok keindahan panorama. Indah sekali pemandangan panorama puncak di pagi hari, serasa bak berada di negeri khayangan. Terlihat nun kejauhan di sana, sekumpulan ibu-ibu sedang melakukan pekerjaan memetik pucuk-pucuk teh yang harum menghijau. Kembali aku menghisap sebatang rokok buah pemberian si abang tukang kopi semalam, dan kami berdua masih terdiam belum saling bertegur sapa. Masih belum ada sepatah katapun yang meluncur dari bibir gadis itu.


Baru aku menyadari bahwa gadis yang sedang berada di boncengan motorku itu ternyata cantik juga, teramat cantik malah. Bodoh sekali aku baru menyadari itu, bahwa selama ini aku membawa seorang gadis cantik atau mungkin juga malah seorang bidadari di belakang motorku, walaupun aku belum kenal siapa gerangan sang mahadewi.

Wajah ayu dengan raut sayu berambut hitam lurus sebahu. Body yang langsing proporsional sempurna walaupun tak terlalu tinggi dan malah terkesan mungil, didukung kulit yang putih halus bin super mulus. Apa lagi hiasan tahi lalat di dagu sebelah kanannya, beuuuhhhh… Benar-benar perfecto. Sungguh kecantikan bak bidadari yang ternyata baru aku sadari.

“Loe kenapa sih ngikutin gue? Trus loe juga siapa sih? Jawab dong, jangan diam aja napa… loe kagak bisu kan?” tanyaku kepada gadis misterius itu. Jawaban yang aku nantikan pun tak juga keluar dari mulutnya. Lagi-lagi aku hanya disuguhi dengan tatapan matanya yang sayu dari raut wajahnya yang ayu itu.
“Ya udah deh kalo loe masih gak mau ngomong. Gue pergi aja lah, gue gak mau tersangkut masalah gara-gara ini. Kalo loe mau motor gue, loe ambil tuh motor.” kataku kesal sambil mengambil tas ranselku yang aku taruh di tangki motorku, dan berjalan menjauh meninggalkan motorku dengan gadis itu.
“Tunggu…!” suara yang akhirnya keluar dari mulut gadis misterius itu.

Tak kuhiraukan suara yang akhirnya keluar dari mulutnya. Aku masih terus berjalan menjauh, masih dengan sebatang rokok filter yang terbakar terselip di bibirku.
“Please, stop… tunggu!” kata gadis itu lagi, sambil berlari mengejar dan menggenggam lenganku menghentikan langkah kakiku. “Tolong jangan pergi… maafin gue ya? Gue tau gue dah ngrepotin loe, tapi loe jangan pergi… Maafin gue, please…” kata gadis itu lagi, yang sekarang malah di iringi dengan isak tangis lirih.

Sejenak kuhentikan langkahku dan berbalik menghadap gadis yang sedang menggenggam lenganku itu. ”Loe siapa sih? Trus kenapa loe ngikutin gue? Loe tu malah semakin bikin ribet hidup gue yang udah ribet, tau gak sih loe…”
“Nama gue Arumi. Sorry kalo gue dah ngrepotin loe. Gue kabur dari keluarga gue, dan gue gak tau lagi harus kemana. Jadi tolong… please, bawa gue. Gue mohon…” kata gadis itu memohon sambil memperkenalkan dirinya.
“Gue Andika… panggil aja Dika. Apapun masalah loe, gue gak ada urusan. Jadi gue mohon dengan sangat, nona arumi… tolong tinggalin gue. Ok?!” kataku mempertegas penolakanku.
“Please… gue mohon, Andika… bawa gue… please… Gue gak tau lagi harus kemana.” iba memohon gadis itu dengan iringan tangis dan air mata yang mengalir keluar dari sudut-sudut matanya yang sayu.
“Sekali lagi gue mohon ya, non… tolong tinggalin gue… gue gak bisa bawa non Arumi. Non Arumi kan belon kenal siapa gue. Siapa tau gue pemerkosa. Emang mau non gue perkosa, hah?!” kataku menakut-nakuti Arumi agar dia mau meninggalkan aku.

Sejenak Arumi terdiam menundukkan mukanya. Tangisnya masih terisak walaupun semakin lirih terdengar. “Perkosa aja kalo Dika mau perkosa gue. Gue ikhlas kalo emang itu bayaran yang loe minta. Tapi gue mohon… gue mohon bawa gue pergi kemana aja loe mau pergi. Bawa gue jauh dari sini, bawa gue lari dari dunia ini… save me! Gue mohooon, please…” permohonan Arumi yang membingungkanku atas ketersediaannya aku perkosa asalkan aku mau membawanya.

Gadis macam apa ini yang rela menukar kehormatannya demi sebuah tumpangan pelarian. Semakin aku kebingungan bagaimana caranya bisa lepas dari jerat beracun gadis yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai arumi tersebut.

Arumi… Arumi… Arumi… Sepertinya aku pernah dengar dan tak asing dengan nama itu. Tapi di mana ya?
“Terserah loe dah, pusing gue. Kalo loe mo ngikutin gue, terserah loe dah… tapi tolong jangan ngrepotin gue, ok? Dan satu lagi, tolong jangan sangkut-pautin gue ke dalam masalah loe, apapun itu. Ccamkan itu baik-baik!”
“Makasih ya, kak… makasih banget.”
“Iya… hapus tu air mata loe, malu gue dilihatin orang-orang. Tus itu baju basah ma BH loe masukin ke tas sini, ntar dikira orang gue ngapa-ngapain loe lagi.” kataku mengijinkan Arumi ikut serta dalam pengembaraanku yang tanpa arah dan tujuan ini seraya menyodorkan tas ranselku untuk menyimpan tank top dan BH-nya yang sedari tadi di tenteng-tentengnya itu. Akupun tak mengerti kenapa aku bisa menarima gadis ini masuk ke dalam petualanganku. Karena rasa iba kah, atau mungkin juga karena kecantikannya?
Oh Arumi… kau memang si cantik berbisa…

Aku lalu kembali ke motor booberku dan bersiap melanjutkan kembali perjalananku yang sekarang tak lagi sendiri, tapi berdua dengan Arumi. The jaourney has begin…

Kembali motor tuaku meraung dan meluncur membawa kami di atas punggungnya. Meluncur kami dengan pelan menyusuri jalan pegunungan puncak yang berkelok-kelok bak ular tangga, sambil menikmati pemandangan panorama indah yang sedikit bisa mengobati galau hatiku. Kami berjalan semakin naik ke atas, semakin ke puncak gunung arah ke kota cianjur.
“Kak, gue mo ke toilet…” rengek Arumi yang terdengar sangat menyebalkan sekali di telingaku.
“Rewel amat, mo ngapain sih?”
“Pengen pipis…”
“Pipis aja pake manja minta ke toilet segala. Di bawah pohon no juga bisa.” kataku dengan hati dongkol karena kerewelannya sambil menunjuk rimbunan pepohonan yang ada di pinggir jalan.
“Tega amat loe, kak… barbar. Arumi kan cewek, kak… masa iya loe suruh gue pipis di bawah pohon sih. Ntar kalo Arumi digigit semut gimana?” rengek manja Arumi yang sudah mulai pasang aksi sok akrab.
“Udah deh, jangan sok akrab…” biarpun dengan hati yang dongkol sedongkol dongkolnya, akupun kemudian menghentikan motorku di sebuah masjid besar yang ada di kawasan puncak pas, mencarikan sang tuan putri mahadewi Arumi sebuah toilet. berita bola terpercaya
“Dah sono turun… tu cari aja toilet di dalam sono tuh.”
“Gak mau…” jawab Arumi.
“Kok gak mau? Gimana sih, suruh pipis di bawah pohon gak mau… dicariin toilet gak mau turun. Loe maunya apa sih? Busyet dah… loe jangan bikin gue pusing napa sih? Loe maunya dianterin trus sekalian gue cebokin gitu?” omelku karena kerewelan Arumi.
“Bukaaaan… gue takut ntar loe kabur ninggalin gue lagi…”
“Ihh… ni kutil rewel amat sih. Udah, sono ah… jadi anak jangan rewe-rewel napa sih?! Untung loe cakep… kalo jelek, dah gue mutilasi juga loe… udah, sono turun!”
Arumi masih diam.
“Turun gak loe?!”
“Iya-iya… gak usah pake urat juga kaleee…”


Setelah aku paksa sambil marah-marah, akhirnya Arumi mau juga turun dari motorku dan masuk ke komplek masjid besar itu mencari kamar mandi yang ada di dalam komplek itu walaupun dengan ragu-ragu.
“Tapi Dika janji ya, jangan tinggalin gue…” katanya lagi yang semakin memanaskan telingaku.
“Anjing… bawel…!” kataku penuh dengan emosi. Setelah Arumi tak terlihat lagi dari pandangan mataku, sempat terlintas dalam benakku untuk kabur dan meninggalkannya. Tapi hati kecil dan nuraniku berkata tidak. Tak sampai hati aku meninggalkan dan menelantarkan gadis secantik itu berkeliaran sendirian di jalanan.

Untung saja Arumi bertemu dengan aku. Coba kalau dia salah bertemu orang, entah bagaimana nasib dia sekarang ini. Mungkin dia sudah diperkosa atau malah sudah dibunuh, dimutilasi, dan mayatnya di jadikan makanan anjing liar. Setelah aku pikir-pikir, sepertinya aku dan Arumi ini senasib. Kami sama-sama lari dari keluarga kami, walaupun aku lebih tepatnya di usir. Tapi judulnya tetap saja sama, kami sama-sama pergi meninggalkan keluarga dan orangtua kami, kami sama-sama ingin lari dari dunia jahanam ini.

Sambil menunggui Arumi keluar dari kamar mandi. Kembali aku mencoba mengingat-ingat siapa Arumi ini sebenarnya. Kenapa nama dan wajahnya seakan tak begitu asing di mataku. Aku merasa seperti tahu dan mengenal nama itu. Berfikir dan terus berfikir, aku mencoba mengingat-ingat siapa sebenarnya gadis yang bernama Arumi ini. Kuexplor kode file mikrocip otakku sampai di ambang batas maksimal gigabitnya untuk mencari jawaban atas kepenasaranku. Hingga akhirnya aku bisa menemukan jawaban itu dari file explorer microcip otakku.
DEG…!
“Tapi… masa sih?” batinku setelah berhasil menemukan jawaban dari dalam brankas file otakku. Kalau otakku masih waras, berarti gadis bawel yang super-duper nyebelin yang mengaku bernama arumi itu adalah…
ARUMI BACHSIN…!!!

Seorang artis sinetron yang sempat beberapa kali aku tonton di tivi karena terpaksa menemani mama nonton sinetron saat mama sedang terbujur sakit. Tapi masa iya sih? Tapi kayaknya gak salah lagi deh.
Saat aku masih setengah percaya dan tidak dengan ingatan buramku, Arumi keluar dari dalam komplek masjid itu dan menghampiriku dengan menyunggingkan senyuman yang ternyata terlihat teramat sangat manis di bibir mungilnya. “Gue yakin loe gak bakal ninggalin gue.” katanya. “Loe baik banget sih jadi cowok, kak? Makasih ya…” cerocos manja kegirangan karena ternyata aku masih sudi menungguinya.
“Loe siapa sih? Loe sebenarnya arumi siapa?” tanyaku spontan dengan dipenuhi kepenasaran akut.
“Loe gak tau gue? Jadi loe beneran gak tau siapa gue, gitu?” pijat panggilan plus
Aku menggeleng.
“Sumpah loe asli gak bo’ong?” Arumi malah balik bertanya kepadaku dengan gayanya yang semakin sotoy sok akrab.
“Lha kalo gue tau, ngapain gue pake nanya, anjing kampret…”

Melihat jawabanku yang penuh dengan kekesalan itu, Arumi malah tersenyum yang semakin membuatku bingung dan bertambah semakin dongkol dengan anak ini.
“Halooo… loe manusia gak ya… atau loe makhluk prasejarah? Loe gak pernah nonton tivi kali ya, atau loe emang gak punya tivi? Gue arumi… Arumi Bachsin! Masa loe beneran gak tau sih? Gue tu tenar tau… artis… selebritis…” jawabnya memperkenalkan nama lengkap dan status sosialnya yang ternyata cocok dengan perkiraanku tadi.

Akhirnya kudapatkan jawaban yang memuaskan dahaga kepenasaranku. Jadi selama ini gadis nyebelin yang tiba-tiba nongol trus langsung ngrepotin ini adalah Arumi Bachsin. Seorang artis sinetron yang lumayan terkenal. Betapa bodohnya aku karena tak bisa mengenali bintang sinetron yang sangat dibenci almarhum mama karena peran-perannya yang cenderung antagonis ini.

Setelah mengetahui siapa jati-diri Arumi ini sebenarnya, bukan berarti aku akan berubah bersikap manis kepadanya. Tak perduli mau siapa dia, mau artis kek, mau tuan putri kek, mau tekek kek. Yang penting judulnya dia datang tiba-tiba di saat yang teramat sangat tidak tepat, dan langsung amat sangat meribetkan a.k.a merepotkan.

Aku lalu mengajaknya ke sebuah warung makan pinggir jalan yang berada tak jauh dari situ untuk mengajaknya bicara dan mengorek keterangan lebih lanjut. Tentang alasan kenapa dia kabur dari rumahnya, dan kenapa juga dia harus datang tiba-tiba dan merepotkanku.

Sambil makan makanan seadanya (ternyata Arumi gak susah juga di kasih makan), Arumi pun menceritakan tentang dirinya, tentang keluarganya, tentang alibi dan kronologis kenapa dia nekat kabur dari rumahnya. Dia menceritakan tentang pemaksaan ibunya yang ingin menjodohkannya dengan seorang pengusaha kaya asal kudus yang telah berusia 30an tahun. Arumi bercerita bahwa dia dipaksa ikut ibundanya ke Yogyakarta untuk dipertemukan dengan pria yang menurut Arumi asal Kudus itu.

Setelah pertemuan itu, Arumi diajak paksa berlibur berdua saja dengan pria pengusaha itu. Dia dibawa ke Singapura pakai pesawat AirAsia. Arumi mengaku tak kuasa menolak karena dalam kontrol dan paksaan kedua orangtuanya, tambah Arumi lagi. Dia merasa memperoleh kekerasan psikis dan fisik dari kedua orangtuanya karena dia dipaksa harus pergi dengan seseorang yang tidak dia kenal dan dia tidak nyaman. Intinya, dijodohkan dan diancam oleh orangtuanya.

Dia juga menceritakan tentang kedekatannya dengan Miller, seorang artis muda asal Malaysia yang tak direstui oleh kedua orangtuanya. Tak cukup sampai di situ saja, Arumi juga di eksploitasi secara financial oleh kedua orang tuanya. Menurutnya, dia dipaksa ibunya untuk tetap bekerja walaupun dia sedang sakit. Dan masih banyak lagi curhatan-curhatannya yang sangat memilukan. Makanya Arumi memilih untuk kabur dari kedua orang tuanya karena sudah merasa tak tahan lagi dengan semua itu.

Seakan tak percaya mendengar semua apa yang dia ceritakan itu. Tak pernah kusangka bahwa gadis cantik yang sangat nyebelin ini ternyata mempunyai permasalah hidup yang sebegitu peliknya untuk anak seusianya. Tak kusangka juga bahwa ada masalah yang lebih pelik dan mengenaskan daripada masalah yang sedang kuhadapi saat ini. Ternyata masalah yang sedang aku hadapi ini tak ada seujung kuku penderitaan gadis 17an tahun ini.

Mulai aku merasa iba dengan penderitaan Arumi. Sebagai saudara senasib, maka seharusnyalah juga kita sepenanggungan. Aku pun lalu memutuskan untuk membawanya turut serta di dalam pelarian dan petualanganku. Lari dari dunia yang sangat menyebalkan ini, lari dari hidup yang tak lagi seindah masa kanak-kanak dulu. Lari untuk mencari dan membentuk jati-diri. Resmilah sudah sekarang kami menjadi rekan sepelarian. Dan di mulailah petualangan kami menjelajahi jalanan mencari pencerahan akan semua masalah yang sedang kami hadapi ini.

Tak terasa, sudah seminggu kami bersama-sama. Selama itu kami berkeliaran di jalanan tanpa arah dan tujuan dari satu kota ke kota yang lain. Arumi yang cantik pun bertambah semakin cantik dengan senyuman manis yang mulai sering menghias di bibir mungilnya. Dengan mengenakan celana jeans belel, jaket kulit hitam, dan sepatu kicker biru dongker yang aku belikan di cimol kota Bandung, Arumi semakin kelihatan cantik, wild, dan sexy. Tak terasa uang bekalku sudah mulai menipis karena terkuras habis saat aku pakai membelikan pakaian untuk gadis itu.
“Rum, gimana ni… modal kita dah mulai menipis nie…”
“Trus gimana dong, kak? Sorry ya, kak, gue cuma bisa ngrepotin loe doang.”
“Udahlah, gak usah dibahas. Loe kan emang bisanya cuma bikin ribet doang kan…” uang di dompetku sekarang tinggal cukup untuk biaya hidup sekitar 2 harian lagi.

Di saat sedang berfikir tentang bagaimana caranya bisa mendapatkan uang buat menyambung hidup, baru aku menyadari bahwa tak terasa perjalanan kami telah sampai di kota Jogja. Dan tiba-tiba teringat aku dengan mas Karman dan mbak Sri yang dulu pernah bekerja di rumahku. Dulu pernah beberapa kali aku ikut mereka pulang kampung, sehingga lamat-lamat aku masih ingat di mana rumah mereka, walaupun aku tak begitu yakin lagi dengan ingatanku 10 tahun yang silam itu.

Tak ada salahnya aku mencoba ke sana, siapa tau mereka masih di sana dan kami bisa numpang sementara di rumah mereka sambil mencoba mencari pekerjaan untuk biaya kami melanjutkan petualangan.
“Tenang, Rum… kaya’nya gue punya solusi. Gue inget punya kenalan gak jauh dari sini. Kita kesana aja, gimana?”
“Ya udah, kak… gimana baiknya aja. Gue sih ngikut aja. Mari di lancrooot… eh, sorry… Di lanjuuutttt.” jawab Arumi penuh canda.

Selama seminggu ini, sedikit demi sedikit Arumi telah banyak berubah. Sekarang dia lebih ceria dari pada waktu pertama kali kami bertemu. Ternyata aslinya Arumi adalah anak yang asik dan rame, penuh dengan canda tawa dan semangat, walaupun juga nyebelinnya gak kira-kira. Bahkan kadang bicaranya jorok dan suka nyrempet-nyrempet. Sudah hilang sama sekali sekarang muka murung dan masamnya, berganti dengan raut muka canda dan ceria yang semakin mempertegas ke ayuan wajah blesterannya. Mata sayunya sekarang telah berganti dengan sorot bola mata indah berbinar binar cerah.

Mulai aku tergoda dengan pesonanya, dengan ayu parasnya, dengan cerianya, dengan binar bening matanya, dan dengan sentuhan-sentuhan dan perhatiannya. Apalagi saat dia sedang berada di boncengan si boober, tak segan-segan dia memelukku dari belakang berpegangan. Menempelkan tubuhnya di punggungku, yang membuatku bisa merasakan betapa keras dan kenyalnya gundukan bukit kembar di dadanya yang biar tak terlalu besar tapi cukup montok itu.

Setelah berjalan berputar-putar seharian penuh, setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami sampai juga di desa Plumbon, kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, tempat tinggal mas Karman dan mbak Sri. Hari sudah menjelang maghrib saat kami sedang sibuk bertanya kesana-kemari kepada warga desa. Hingga akhirnya secara tak sengaja kami malah bertemu dengan mas Karman dan mbak Sri di jalan desa. Ternyata mereka masih mengenali aku walaupun sudah sekitar 10 tahun sejak terakhir kami bertemu.
“Eh, den… den Andika! Ini den Andika kan?” sapa mas Karman.
“Iya, mas…” jawabku.
“Kok aden bisa nyampe ke sini?” tanya mas Karman yang terkejut berpapasan denganku di jalan.
“Iya, den… den Dika mau kemana? Yuk ke rumah mbak Sri aja yuk…” tanya mbak Sri yang tak kalah terkejutnya sambil mengajak kami ke rumah mereka.

Rupanya setelah selama 10 tahun mereka berdua tidak berubah. Mereka masih seperti dulu, masih seperti mas Karman dan mbak Sri yang kukenal dulu baik dari raut wajah maupun fisik, tak ada perubahan sama sekali. Dan mereka juga masih ingat dengan aku, anak manja yang dulu sering mereka gendongin yang sekarang telah tumbuh menjadi seorang pemuda tampan yang gagah.
“Kami emang mau ke tempat mbak Sri dan mas Karman.” jawabku.
“Ya udah… Ayuk, den…” ajak mereka.

Tak berapa lama, akhirnya kami sampai di rumah mas Karman dan mbak Sri. Sebuah rumah yang indah di daerah yang asri dengan di kelilingi kebun salak podoh di samping kanan kiri rumah serta sebuah kolam ikan besar di halaman belakang agak jauh dari rumah. Rumah mereka yang asri model srotong dan bercat kuning gading itu berada di sebuah dukuh yang bernama Plumbon di desa Plumbon, Tawangmangu.

Ooohhh… sungguh tempat yang sempurna untuk menenangkan pikiran dan tempat pelarian. Suasananya yang tenang, alamnya yang indah, dan warganya yang baik hati dan ramah. Inilah mungkin yang disebut dengan surga dunia.
“Ayo, den… silahkan masuk… mari, non…” mas Karman mempersilahkan kami masuk ke rumah kecil sederhananya yang asri nan indah.

Sesampainya di dalam, kami dipersilahkan duduk di ruang tamu di atas kursi rotan. Akupun lalu menceritakan tentang pelarianku, tentang huru-hara yang terjadi sepeninggal almarhum mama, dan tak lupa juga aku memperkenalkan Arumi, gadis yang sedang bersamaku ini. Tak perlu aku menceritakan lebih lanjut tentang Arumi, tentang kenapa dia bisa denganku di sini, karena tanpa aku ceritapun mereka pasti sudah tau melalui pemberitaan-pemberitaan tentang Arumi yang heboh di infotainment. Tak lupa juga mas Karman dan mbak Sri memperkenalkan kami dengan Kinanti, anak gadis sewata wayang mereka yang baru kelas 3 SD. Alangkah senangnya mbak Sri bisa berkenalan dengan seorang artis sinetron yang sering di lihatnya di tivi 14” miliknya.
“Asline luweh huaayuu tinimbang neng tivi-tivi. Jian… huayune puool…” kata mbak Sri mengagumi kecantikan asli Arumi. Memang aku akui, bahwa Arumi lebih cantik polos tanpa make-up dari pada pakai make-up tebal.

Hampir tak percaya mas Karman dengan ceritaku. Karena selama yang dia tahu, pak Handoko yang dia kenal adalah seorang yang arif bijaksana dan bertanggung jawab serta sangat mencintai almarhum mama. Bukan pak Handoko seperti sekarang yang aku ceritakan.

Singkat cerita resmilah sudah mulai malam ini kami numpang di rumah mas Karman dan mbak Sri tanpa batas waktu yang ditentukan. Tapi ada satu yang membuat kebingung di sini. Di rumah mas Karman ini ternyata hanya mempunyai dua buah kamar. Setelah bermusyawarah, akhirnya sampailah kami pada satu kemufakatan. Mas Karman dan mbak Sri tetap tidur di kamar mereka bersama Kinanti anaknya, Arumi di kamar yang satunya lagi, dan aku terserah mau tidur dimana, yang jelas aku tidak kebagian kamar.

Pada suatu malam di hari kedua kami numpang di rumah mas Karman dan mbak Sri… Malam sudah menunjukkan jam satu malam, dan aku belum bisa tidur karena malam ini terasa dingin sekali. Ketika sedang asik menonton tivi sambil menikmati sebatang rokok kretek cap jambu bol sedekah dari mas Karman, Arumi keluar dari kamarnya dan menghampiriku. cerita esek esek
“Kak dika… anterin gue dong.” rengek nyebelinnya mulai keluar lagi.
“Mo kemana sih?”
“Hehehe… kebelet… anteriiin…” Arumi sok imut.

Terpaksa aku antar dia ke toilet rumah mas Karman yang terletak jauh di belakang rumah, diantara rerimbunan pohon salak di atas kolam ikan. Karena tidak mungkin Arumi berani ke sana sendirian di tengah malam seperti ini. Suasana yang gelap di tambah wangi bunga salak semakin menambah horor suasana malam yang dingin sunyi mencekam ini.
“Tungguin di sini aja, kak… jangan jauh-jauh.”
“Gila kali loe ya… Masa iya gue nungguin di sini? Ya kelihatan lah loe lagi pup, trus bau lagi. Jangan gila dong, dasar munyuk loe…” sungutku kesal karena disuruh menunggu di depan Arumi yang sedang buang air besar. Toilet mas Karman ini hanya disekat dengan anyaman bambu sepinggang orang berdiri, jadi dari tempatku berdiri bisa terlihat jelas segalanya.
“Ya gak usah pake ngatain munyuk juga kali, kak… jangan jauh jauh… Gue takut nih.”
“Iihh… nih anak bawel amat sih… lama-lama gue entot juga loe.”
“Iih, kayak ngomongnya jorok… porno. Pelecehan tuh…”

Akhirnya dengan terpaksa aku tunggui juga Arumi yang sedang buang air besar, walaupun dengan hadiah bau wangi pup yang sangat fantastis dan bombastis.
“Loe artis kok pup loe bau banget sih? Tadi makan bangkai loe ya?”
“Kakak bener bener ih… omongannya kasar. Kaya orang gak berpendidikan dan gak punya tata-krama… sakit tau hati ini loe kata-katain gitu…”
“Bodoh… emang gue pikirin…” hatiku yang dongkol semakin bertambah dongkol tujuh turunan, karena ternyata sang nona artis binti selebritis ini buang air besarnya lama banget.

Tahu kalau aku sedang kesal, Arumi pun mengajakku ngobrol biar aku tak terlalu kesal menungguinya. “Kak… loe katanya mo perkosa gue, kapan?” pertanyaan Arumi yang aku tahu maksudnya bercanda yang ternyata tanpa disadarinya pas tepat menghujam mengenai jantungku. Hampir aku tak percaya pertanyaan seperti itu bisa meluncur keluar dari mulut Arumi.
“Loe gila apa kesambet demit pohon salak sih? Ntar gue perkosa beneran lapor komnas HAM lagi ntar loe.”
“Kalo yang perkosa kayak mah gue mau. Asal…”
“Asal apaan?” tanyaku penasaran dengan kelanjutan kata asal itu.
“Asal…”
Aku menunggu.
“Asal kayak mau ngambilin gue air buat cebok. Hehehe…” jawabnya yang langsung membuatku tersenyum, lucu karena ternyata dari tadi Arumi lupa belum mengambil air buat cebok.
“Anjing… Dasar munyuk… Bangsaaaat… pantesan loe gak kelar-kelar, ternyata loe belon ada air buat cebok to. Dah, susut ajalah pake rok loe tuh.” jawabku asal.
“Jangan jahat apa, kak… cewek itu harus dilindungi, diayomi, disayang-sayang. Makhluk lemah nih… bukannya malah diomel-omelin, dicaci-maki gitu. Sadis bener sih kakak jadi manusia…”
Akhirnya dengan terpaksa kuambilkan Arumi setimba air buat cebok dari sumur yang tak jauh dari toilet futuristic itu. “Sekalian di cebokin gak nih si nona selebritis?” kataku masih dengan kekesalan sambil menyerahkan setimba air itu. Sekilas terlihat betapa putih dan mulusnya paha Arumi sampai ke pangkalnya, dan terlihat juga serimbun bulu hitam tipis yang mengintip di antara jepitan selangkangannya.
“Gak usah ya… ntar loe nakal lagi…”

Selesai itu, kami pun kembali ke dalam rumah mas Karman. Kuperhatikan gadis ini dari belakang, dan diam-diam semakin kukagumi keindahan molek tubuhnya. Arumi terlihat semakin cantik malam ini, dengan pakaian khas gadis desa, rok polkadot lebar selutut dengan atasan kaos oblong warna biru gambar kupu-kupu pemberian mbak Sri. Rambut lurus sebahunya di kepang kuncir dua yang semakin membuat manis penampilan ala gadis desanya.
Sungguh aku terpesona, wahai bidadari…
Sungguh aku mulai jatuh cinta, wahai mahadewi…
Sesampainya di dalam rumah mas Karman dan mbak Sri, kami berhenti dulu di dapur. Sebagai imbalan mengantar ke toilet, aku minta Arumi untuk membuatkan aku segelas kopi.
“Kakak kedinginan ya, tidur di luar?” tanya Arumi sambil menunggu air rebusan buat kopi mendidih.
“Gak, di luar malah puanas kok… Ya iya lah dingin, pake nanya lagi. Tolol apa begok sih loe?” jawabku ketus.
“Janji mulai sekarang kakak gak kasar lagi ngomong ama gue. Stop kakak caci-maki gue lagi. Sebagai balasannya, kamar gue gak gue kunci.” balas Arumi ringan yang membuatku deg-degan melongo seakan tak percaya.

Selesai membuat segelas kopi, kami pun kembali ke dalam rumah, dan Arumi pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Kembali aku menonton tivi seperti tadi, tapi kali ini temanku bertambah satu lagi dengan segelas kopi made in Arumi yang ternyata lumayan enak juga.

Terngiang kembali kata-kata gadis itu tentang kamar yang tak dikunci. Jantungku semakin berdebar kencang membayangkan tidur berdua sekamar dengan Arumi. Pikiran-pikiran mesum dan kotorpun mulai bangkit menginfeksi kewarasanku. Timbul pertentangan-pertentangan di dalam diriku sendiri, antara memanfaatkan kesempatan yang telah Arumi buka atau tidak. Antara menuruti hawa nafsu atau menghormati norma dan etika. Lama aku memikirkan itu semua.

Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, dan udara malam yang dingin pun bertambah semakin dingin. Pelan aku melangkah ke arah kamar Arumi. Dengan ragu dan debaran jantung yang semakin kencang, kudorong pelan pintu kamar itu yang ternyata benar… pintu itu terbuka, tidak terkunci. Terlihat di atas ranjang kayu di dalam kamar itu seorang bidadari sedang tertidur dengan damainya di dalam temaram. Aku tutup dan kali ini aku kunci pintu kamar itu, lalu aku melangkah pelan mendekati Arumi yang tertidur dan terlihat sangat manis saat sedang terlelap terbuai dalam mimpi. Terlihat wajah polos ayunya, raut wajah yang tenang dan damai bak tanpa noda dosa. Aku duduk di pinggiran ranjang di sampingnya yang sedang terlelap. Kupandangi sejenak wajah ayunya. Ooh, Tuhan… sungguh cantik anak ini. *Kesempurnaan anugrah yang Engkau titipkan padanya. Tapi kenapa setiap keindahan yang Engkau anugrahkan harus diiringi dengan rahasia-Mu.
“Kakak…” kata Arumi yang terjaga menyadari kehadiranku.
“Udah, kamu bobo’ aja.”
“Naik sini, kak…” katanya sambil menggeser tubuhnya, memberikan ruang untukku di atas ranjang kayu itu.
“G-gue tidur di sini?” aku setengah tak percaya dengan ini semua.
“Iya, sini… Ayo naik…”
Aku pun naik ke atas ranjang kayu itu dan membaringkan tubuhku di samping Arumi Bachsin. Tersungging senyum manis di bibir mungilnya yang semakin mempercantik indah parasnya.
“Ntar kalo gue nakal jangan protes ya…”
“Hush… jangan sekarang. Bobok yuk… ngantuk banget nih…” lagi perkataan Arumi yang semakin membuat jantungku berdegub semakin kencang.
“Kak?”
“Heeh…”
“Gue pelukin kakak boleh gak?”
“Iya, asal loe jangan ngiler aja…”

Arumi lalu memiringkan tidurnya menghadap ke arahku, menyandarkan kepalanya di pundakku dan memeluk tubuhku. Dadanya tepat menempel di lengan kananku, sehingga aku bisa merasakan keras dan montoknya payudara Arumi. Pikiran-pikiran mesum mulai menjalar kuat mempengaruhi nuraniku. Dan tanpa bisa ditahan, si otong di bawah sana pelan-pelan mulai bangkit berdiri, bersiaga satu untuk kemungkinan sebuah agresi militer. Tak kuturuti segala godaan nafsu yang menjalariku itu, walau kuakui lama-lama aku tak kuat juga melawan semua ini, itu bukan gayaku.
“Kakak jangan horny ya…”
“Enak aja jangan horny-jangan horny… ini aja gue dah horny berat, Rum. Gue masih normal…”
“Tahan ya, kak Dika kan anak baik.”

Lama aku tak bisa memejamkan mataku karena semua ini. Sekuat tenaga aku berusaha menguasai nafsu yang semakin kuat merasukiku. Sempat terlintas di benakku untuk mamaksanya melakukan itu. Bukankah dia sendiri yang telah memberikan kesempatan itu dengan mempersilahkan aku tidur di sini. Dan sekarang malah dia tidur sambil memelukku.

Tapi nuraniku berkata lain. Rasa ibaku akan segala penderitaannya mengalahkan sisi iblis jiwaku. Terlihat begitu damai paras ayunya tertidur memelukku. Alangkah jahatnya aku seandainya sampai hati memanfaatkan kelabilan jiwanya ini untuk kepuasan hasrat birahiku sesaat. Tak terasa akupun juga sudah ikut tertidur pulas bersamanya.

Pagi harinya aku terbangun dari tidur dengan posisi yang sekarang aku juga memeluknya. Kami tidur dalam posisi berpelukan. Kedua kaki kami saling mengapit saling tumpang tindih. Kupandangi wajah ayunya yang tetap ayu bahkan semakin ayu walaupun sedang tertidur lelap. Kudaratkan sebuah kecupan sayang di kening Arumi dengan masih memeluknya, bahkan semakin erat aku memeluk tubuh mungilnya. Kuusapkan tanganku mengelus punggungnya. Usapanku pelan semakin nakal turun menjelajahi tubuhnya, semakin turun dan turun hingga sampai mendarat di bokong indahnya. Kuusapkan lembut jemariku di sana, diiringi dengan remasan-remasan kecil yang membuatnya terjaga dari tidurnya. Sudah lupa aku bahwa di luar kamar, mas Karman dan mbak Sri sudah sibuk beraktifitas. Pasti mereka curiga akan ketidak-beradaanku di tempat biasa, di tempat aku seharusnya tidur.
“Eeemmmmhhhh… kak, met pagi… oooaammm… pagi-pagi tangannya kok udah jelalatan sih… nakal.” kata Arumi yang terjaga dari tidurnya dan mengetahui kenakalan tanganku.

Arumi tak berusaha menghentikan kenakalan-kenakalan tanganku itu, hanya sebuah cubitan kecil di pinggangku satu-satunya isyarat seolah penolakannya. Dia malah tersenyum dengan manis dan semakin mengeratkan pelukannya. Mungkin betul apa kata orang. Wanita yang benar-benar cantik akan kelihatan saat dia baru bangun tidur. Dan mungkin Arumi lah salah satu dari sekian wanita cantik alami itu. Karena dia tetap cantik, bahkan semakin bertambah cantik walaupun baru bangun tidur dengan masih dalam keadaan awut-awutan tanpa make-up.
“Pengen ya, kak?” tanyanya.
“He-eh…” jawabku.
“Hehehe… gak boleh, kak… bukan muhrim…” lagi-lagi senyum misterius itu tersungging di bibir manisnya.

Tak kuteruskan kenakalan jemariku. Tak ingin aku terjebak dalam situsi yang sangat membirahikan ini. Aku pun lalu bangkit dari tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar Arumi. Sial bagiku, saat aku keluar dari kamar arumi, aku berpapasan dengan mbak Sri yang sedang mendandani Kinanti, anak gadisnya yang baru kelas 3 SD untuk berangkat ke sekolah. Mbak Sri hanya tersenyum mengetahui aku keluar dari kamar Arumi. Bergegas aku ke kamar mandi dan menyegarkan tubuhku.

PIN BBM (BLACKBERRY) : 7BBCF604
NO TEL               : +855 16 675386
WHATSAPP             : +855 16 675386
WECHAT               : kudusgroup
LINE                 : kudusgroup
EMAIL                : kudusgroup@gmail.com
YAHOO MESSENGER      : cs.djarumgrup

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.