Kudus Group Agen Bola Rekomendasi adalah Bandar Agen Judi Bola SBOBET, Dapatkan Berita dan Informasi Update Prediksi Bola Akurat dan Promo Menarik Yang Hanya Bisa Anda Dapatkan di www.KudusGroup.com dan Berita.KudusGroup.com

Header Ads

WWW.KUDUSGROUP.COM dan BERITA.KUDUSGROUP.COM Kudus Group agen bola rekomendasi adalah bandar agen judi bola sbobet, memberikan prediksi bola akurat dan cerita esek esek

Pemuas Nafsu Ayam Kampus Binal

www.kudusgroup.com -“Haiiii boleh gabung yah!” rese banget nih orang bikin kaget aku saja dalam hatiku”

Ternyata Galang cowok playboy di kampusku yang minggu kemarin aku bercinta dengannya

“Penuh apa alasan buat bisa deketin kita, heh?” goda Nana padanya.

“Iya nih, dasar, itu tuh disana aja kan ada yang kosong, hus.. hus..!!” kataku dengan nada bercanda.

“Maunya sih.. cuma kalau saya disana takutnya ada yang merhatiin saya, jadi mendingan saya deketin sekalian” kelakarnya dengan gaya khas seorang playboy.

“Gila nggak tahu malu amat, jijay loe!” sambil kucubit lengannya.

Kami bertiga menikmati makan dan obrolan kami semakin seru dengan datangnya pemuda ini. Harus kuakui Galang memang pandai berkomunikasi dengan wanita dan menarik perhatian mereka. Dalam empat sekawan geng-ku saja dia sudah pernah menikmati petualangan sex dengan tiga diantaranya, tinggal si Windi yang belum dia rasakan. 

                                                              Windi, Cinta, Nana

“Kuliah jam berapa lagi nih kalian?” tanyanya

“Saya sih masih lama, jam tiga nanti, pulang tanggung” jawabku.

“Kalau saya sih sebentar lagi jam satu masuk, BT deh kuliahnya Bu Dinah yang killer itu” jawab Nana sambil mengelap mulutnya dengan tisu. agen bola sbobet “Halo Ci.. hai Nana (Nana)!” sapa Windi yang tiba-tiba nongol dari keramaian orang lalu duduk di sebelah Nana.

Hari itu Windi tampil dengan penampilan barunya yaitu rambutnya yang panjang itu dicat coklat sehingga nampak seperti cewek indo. Dia terlihat begitu menawan dengan baju pink yang bahunya terbuka dipadu celana panjang putih.

Kuperkenalkan Galang pada Windi, berbeda dengan kami bertiga yang dari fakultas yang sama, Sastra Inggris, Windi berasal dari Fakultas Ekonomi sehingga dia belum mengenal Galang. Begitu kenal dengan Windi, Galang langsung beraksi dengan kata-kata dan pujian gombalnya. Dengan sifat Windi yang gaul itu mereka cepat akrab dan omongannya nyambung.

“Dasar aligator darat,” begitu gumamku dalam hati sambil menyedot minumanku.

Tak lama kemudian HP Nana berdering lalu dia pamitan karena ada janji mau mengerjakan tugas kelompok dengan temannya di perpustakaan. Jadi sekarang tinggallah kami bertiga.

“Ngapain yah enaknya sambil nunggu, bosen kan disini terus?” kata Windi setelah menghabiskan kentang goreng dan minumnya. Ternyata dia sedang menunggu kuliah jam tiga juga.

“Ke kost saya gimana? Saya sih sudah beres nggak ada apa-apa lagi,” usul Galang.

Kami pun mengiyakan daripada menunggu dua jam lebih di kampus, di kostnya kan banyak film jadi bisa nonton dulu. Kami pun berjalan ke gerbang samping yang menuju ke kostnya setelah membayar makan.

Hanya dalam lima menit kami sudah tiba di tujuan. Kostnya cukup besar dan bagus karena termasuk kost yang mahal di daerah sini, terdiri dari dua tingkat dengan kamar mandi di kamar masing-masing. Penghuninya campur pria-wanita, tapi menurut Galang lebih dari setengahnya wanita, makannya dia betah di sini.

“Welcome to my room, sori yah rada berantakan,” dia membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk ke kamarnya di tingkat dua. Ini bukan pertama kalinya aku ke sini, aku bahkan pernah ‘bercinta’ disini saat one night stand dengannya.

Pada temboknya terpampang beberapa poster pemain sepak bola, juga ada sebuah poster anime Kenshin. Foto pacarnya yang kuliah di luar negeri dipajang diatas meja belajarnya yang sedikit acak-acakan.

Kami ngobrol-ngobrol sambil menikmati snack hingga akhirnya obrolan kami mulai menjurus ke masalah seks. Galang tanpa basa-basi menawarkan nonton film bokep koleksinya, dipilihnya salah satu CD bokep Jepang favoritnya.

Aku tidak ingat judulnya, yang pasti adegannya membuatku merinding. Kami bertiga hening menatapi layar komputer seakan terhanyut dalam adegan yang pemerkosaan masal seorang wanita oleh beberapa pria, sperma pria-pria itu berhamburan membasahi si wanita.

Darahku serasa memanas dan selangkanganku mulai basah. Windi di sebelahku juga mulai gelisah, dia terlihat menggesek-gesekkan kedua pahanya. Dan, si Galang.. oh dia meremas-remas tangan Windi, dia juga mulai berani mengelus lengannya.

Melihat reaksi Windi yang malu-malu mau dan sudah terangsang berat, Galang makin berani mendekatkan mulutnya ke pundak Windi yang terbuka. Windi menggelinjang kecil merasakan hembusan nafas Galang pada leher dan pundaknya.

Karena sudah merasa horny, ditambah lagi Galang dan Windi mulai beraksi, akupun tidak malu-malu lagi mengekspresikan nafsuku pada Windi yang duduk paling dekat denganku. Tanganku merayap lewat bagian bawah bajunya dan terus menyelinap ke balik bra-nya.

Aku dapat merasakan putingnya makin mengeras ketika kumain-mainkan dengan jariku. Mulutku saling berpagutan dengannya, lidah kami saling beradu dan bertukar ludah. Sementara di sebelah sana, Galang mulai menjilati leher dan pundaknya, disibakkannya rambut panjang itu lalu dihirupnya wangi tubuhnya sebelum cupangannya berlanjut ke leher dan belakang telinganya.

Windi mendesah tertahan menikmati perlakuan ini, tangannya mulai bergerak meraih penis Galang yang masih tertutup celana jeansnya, diraba-rabanya benda yang sudah mengeras itu dari luar. Ciuman Galang menurun lagi ke bahu Windi sambil menurunkan pakaian dengan bahu terbuka itu secara perlahan-lahan, suatu cara profesional dan erotis dalam menelanjangi seorang wanita.

Aku juga ikut menurunkan pakaian Windi dari sebelah kiri sehingga pakaian itu sekarang menggantung di perutnya. Dengan cekatan Galang menurunkan cup BH kanannya dan langsung melumatnya dengan rakus.

Windi melenguh merasakan payudaranya dihisap kuat oleh Galang. Aku sekarang melepaskan pakaianku sendiri hingga bugil lalu mendekati Galang yang sudah merebahkan tubuh Windi di ranjangnya. Kupeluk pinggangnya dari belakang dan melepaskan sabuknya disusul resleting celananya.

Galang berhenti sejenak untuk membiarkanku melucuti dirinya, disaat yang sama Windi juga melepasi pakaiannya. Kini kami bertiga sudah telanjang bulat. Kami menyuruh Galang rebahan di ranjang agar bisa menservis penisnya. Penis yang sudah mengeras kukocok dan kujilati, lalu kumasukkan ke mulutku.

Bersama dengan Windi, kami bergantian melayani ‘adik’ Galang dengan jilatan dan emutan. Windi melakukan aktivitasnya dengan terngkurap diatas tubuh Galang dengan kata lain mereka dalam posisi 69, jadi Galang bisa menikmati vagina Windi sementara kami berdua menikmati penisnya.

Galang sangat menikmati vagina Windi, hal ini nampak dari cara dia menjilat dan menyedot liang itu, terkadang suara hisapannya terdengar jelas sehingga membuat Windi mengerang pendek. Beberapa menit kemudian Windi mengerang lebih panjang dan suara seruput Galang terdengar lebih jelas, ternyata Windi sudah mencapai orgasme pertama.

Galang mengganti posisi, Windi disuruh telungkup di ranjang dan pantatnya diangkat menungging, Galang sendiri mengambil posisi di belakangnya dan mengarahkan senjatanya ke vagina Windi. Windi merintih sambil meremas sprei menikmati penis Galang melesak masuk membelah bibir bawahnya.

Ketika penis itu masuk sebagian, Galang menghentakkan pinggulnya dengan bertenaga sehingga penisnya amblas seluruhnya dalam vagina Windi. Tubuhnya tersentak pelan dengan mata membelalak diikuti dengan erangan nikmatnya.

Galang memompa Windi dengan gerakan-gerakan yang mantap dan erotis sehingga Windi tidak sanggup berkata apa-apa selain mengap-mengap keenakan. Kedua tangannya menjelajahi payudara Windi yang berukuran sedang tapi padat, kedua putingnya dipencet-pencet atau dipelintir. Aku sendiri yang tidak tahan hanya menonton mengambil posisi berselonjor di depan Windi, kedua pahaku kubuka lebar dan kudekatkan ke wajah Windi.

“Ndah.. jilatin punya saya yah.. nggak tahan nih!”

Windi mulai menjilati paha dan vaginaku, lidahnya menari-nari menggelikitik klitorisku yang sudah menegang sementara tangannya meraih payudaraku dan mencubit-cubit putingku. Lidah Windi memberi rangsangan tak terkira pada kemaluanku sehingga aku tidak tahan untuk tak mendesah.

Desahan kami bertiga pun terdengar memenuhi kamar ini. Kami berganti posisi menjadi woman on top, Windi bergoyang di atas penis Galang dan aku naik ke wajah Galang berhadapan dengan Windi, kini vaginaku dilayani oleh Galang dengan lidahnya.

Sambil terus bergoyang aku berciuman dengan Windi, aku kembali menikmati lidah sesama jenisku, kami bercipokan sambil mengeluarkan desahan-desahan tertahan. Ciuman Windi terus turun ke leherku hingga berhenti di payudara kananku, sebuah gigitan kecil disertai hisapan pada daerah itu membuatku menggeliat, disusul tangan Galang menjulur dari bawah mencaplok yang kiri.

Ooohh.. sepertinya bagian sensitifku diserang semua, lidah Galang yang dikeraskan itu melesak masuk lebih dalam dan bergoyang menggelikitik dinding kemaluanku, tangannya yang satu meremas dan sesekali menepuk pantatku yang sekal.

Aku semakin erat mendekap Windi sambil satu tanganku meremas payudaranya. Tak lama kemudian aku merasa sesuatu yang mendesak keluar dari bawah sana, ahh.. aku tak sanggup lagi menahan cairan cinta yang mulai membasahi vaginaku. Hal yang sama juga dialami Windi tak lama kemudian, dia melepas emutannya pada putingku, nafasnya makin memburu dan dia menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih cepat.

Tubuh kami berdua mengejang hebat dan erangan klimaks keluar dari mulut kami. Galang menusuk-nusukkan jarinya ke vaginaku membuat cairan itu makin membanjir dan tubuhku makin tak terkendali, aku mendesah panjang tanpa mempedulikan rasa sakit dari kuku Windi yang mencakar lenganku.

Cairanku diseruput Galang dengan rakusnya, vagina Windi juga mengeluarkan banyak cairan sehingga menimbulkan bunyi kecipak air. Goyangan kami mulai mereda, kami berpelukan menikmati sisa-sisa orgasme barusan, kami menghimpun nafas kami yang kacau balau, keringat seperti embun membasahi dahi dan tubuh kami.

Akhirnya kujatuhkan diriku ke samping dan Windi jatuh di dekapan Galang. Galang menoleh ke samping bertatapan muka denganku lalu mengembangkan senyum, nampak mulutnya masih basah oleh cairan cintaku. Hebat juga dia, bisa membuat dua wanita klimaks dalam waktu hampir bersamaan, begitu pujiku dalam hati.

“Gimana girls, ready for next round? Saya belum keluar nih,” katanya sambil mengelus rambut panjang Windi.

“Hhh.. kamu duaan aja dulu deh, saya kumpul tenaga dulu. Heh sialan kamu Ndah, pakai cakar-cakaran segala sakit tahu, nih!” omelku memperlihatkan bekas cakaran di lengan kiriku yang sedikit berdarah sambil mencubit lengannya.

“Hihihi.. sory dong Ci, tadi kan kita lagi lupa daratan lagi, yang penting kan enjoy juga,” jawabnya santai sambil tersenyum kecil. Sebentar kemudian agen judi sbobet Galang sudah membalikkan tubuh Windi menjadi telentang dibawahnya, lalu kembali penisnya dimasukkan ke vagina Windi diiringi desahannya.

Ranjang ini sudah mulai bergetar lagi oleh goyangan tubuh mereka. Sambil menggenjot Galang meraih payudaraku dan memencetnya lembut sebagai sinyal mengajakku segera bergabung.

“Ntar yah, saya mau minum dulu nih, haus,” kataku sambil bangkit berdiri dan mengambil sebuah gelas, aku membuka kran dispenser yang terletak di dekat jendela untuk mengisi air.

Ketika sedang meneguk air tiba-tiba aku mendengar suara kresek-kresek di pintu. Kutajamkan pendengaranku dan melihat ada seperti bayangan di celah bawah pintu, pasti seseorang mengintip kami pikirku.

Aku tadinya bermaksud memberitahu mereka, tapi sebaiknya kuselidiki sendiri karena mereka sedang sibuk berpacu dengan nafsu sampai tidak begitu menghiraukanku. Kusingkap sedikit tirai jendela untuk melihat siapa di luar sana, ada seseorang pria sedang menempelkan telinganya pada pintu, dia juga berusaha mencari-cari lubang untuk mengintip, tapi wajahnya tidak jelas.

Dalam pikiranku terbesit sebaiknya kuajak saja dia untuk meramaikan, mumpung aku dari tadi belum dimasuki penis karena Galang sedang asyik menggumuli Windi. Maka sebelumnya aku melihat dulu sekeliling apa ada orang lain lagi selain dia, letak kamar ini cukup strategis agak ujung dan jauh dari keramaian.

Setelah yakin tidak ada siapapun lagi selain pengintip ini kuberanikan diri membuka pintu mengejutkannya. Pelan-pelan gagang pintu kuputar dan.. hiya.. orang itu terdorong masuk karena sedang menyandarkan tubuhnya pada pintu, dengan cekatan pintu kembali kututup. Orang itu benar-benar terkejut, bingung, dan terangsang melihat sekelilingnya bugil dan ada yang bersenggama pula.

Galang dan Windi yang sedang berasyik-masyuk kontan ikut terkejut, Windi menyambar guling untuk menutupi tubuhnya dan menjerit kecil. Belakangan aku tahu dia adalah kacung di kost ini, namanya Dadan, usianya masih 17 tahun, anaknya tinggi kurus dan berkulit sawo matang.

Tadinya dia cuma mau mengambil barang di gudang yang kebetulan harus lewat kamar ini, ketika itulah dia mendengar suara-suara aneh dan terpancing untuk mendengar dan mengintipnya. Dia langsung tertunduk-tunduk minta maaf berkali-kali karena dimarahi Galang yang merasa gusar diintip olehnya.

Namun ketika Galang merenggut kerah baju pemuda itu dan hendak memukulnya buru-buru aku mencegah dan menenangkan si Galang yang bertemperamen tinggi. “Ehh.. sudah-sudah, dia kan nggak sengaja tadi, kita juga yang salah terlalu keras suaranya.. sudah kamu sana aja terusin pestanya sama Windi, biar dia, saya yang urus, lagian di sini kurang cowoknya,” bujukku mengedipkan sebelah mata pada Galang.

Kuelus-elus dada Galang dan berusaha menenangkannya, setelah kubujuk-bujuk akhirnya dia mundur juga.

“Tenang Mas, kamu orang terusin aja, biar saya urus yang ini”

Akupun tersenyum padanya mencoba mengajak bicara sambil memegangi kedua lengannya, kurasakan tubuhnya masih agak gemetar dan tertunduk, entah karena tegang, kaget, atau malu.

“Nama kamu Dadan ya?” tanyaku dengan lembut dan dijawab dengan anggukan kepalanya.

“kamu tadi sudah ngeliat apa aja Dan?” tanyaku lebih lanjut

“Belum liat apa-apa kok Non, sumpah.. saya cuma denger suara-suara terus saya cari tahu” jawabnya terbata-bata

“Terus kamu tahu apa yang kita kerjain barusan itu?” dijawab lagi dengan anggukan kepala.

“Kamu pernah ngerasain ngentot sebelumnya?”

“Nggak pernah Non, paling cuma liat di VCD sambil coli”

“Ya sudah Dan, berhubung kamu sudah disini gimana kalau Mbak ajarin kamu soal gituan,” aku tersenyum lagi dan mengangkat wajahnya yang tertunduk, walaupun gugup tapi matanya terus ke arah tubuhku yang polos, sebentar-sebentar juga melihat ke arah Windi.

“Sini Mbak bukain bajunya, biar enakan, ayo.. jangan malu-malu disini semua bugil kok!” kulucuti pakaiannya tanpa menunggu responnya, dia masih malu-malu menutupi penisnya dengan tangan.
Kutepis tangannya dan kugenggam penis yang masih setengah tegang itu, aku berlutut di depannya dan mulai menjilati benda itu, kemasukkan bagian kepalanya ke mulutku dan kuemut pelan.

Aku melirik ke atas melihat reaksi wajahnya dengan mata merem-melek dan menelan ludah memperhatikan aku mengoralnya. Makin kukocok benda itu terasa makin keras dan besar, memang nggak jumbo size sih, namanya juga ABG, tapi kerasnya lumayan.

“Hmmhh.. Mbak.. geli Mbak!” erangnya gemetaran.

“sudah jangan cerewet, dikasih enak gratisan malah bawel, nanti juga ketagihan kok” jawabku.

Tiba-tiba terdengarlah suara musik heavy metal mengalun di kamar ini, sambil terus menyepong kulirikkan bola mataku ke arah suara. Ternyata si Galang menyalakan MP3 di komputernya dan menyetel volume suaranya untuk meredam suara kami.

Kemudian mereka yang tadinya melongo memperhatikanku mengerjai anak muda sudah mulai lagi dengan kesibukan mereka. Kini Galang menaikkan kedua tungkai Windi ke bahunya dan kembali melesakkan penisnya ke vaginanya.

Setelah beberapa kumainkan dalam mulutku, penis itu mulai berkedut-kedut, pemiliknya juga mendesah makin tak karuan. Akupun semakin dalam menelan benda itu hingga menyentuh daging lunak di tenggorokanku.

“Mbak.. ohh.. enakk banget Mbak.. aahh!” desahnya panjang bersamaan dengan spermanya yang ngecret di dalam mulutku.

Pipiku sampai kempot mengisap dan menelan cairan itu dengan nikmat, tak setetes pun tertinggal. Kemudian akupun bangkit berdiri sambil tetap menggenggam penisnya yang masih ngaceng tapi agak berkurang tegangnya.

“Gimana Dan, pernah diginiin nggak sama cewek sebelumnya, rasanya gimana?” tanyaku dengan senyum nakal.

“Baru pertama kali Mbak.. he-eh emang enak banget,” katanya masih dengan nafas terengah-engah.

“Ini baru pemanasan Dan, masih banyak yang lebih enak kok, yuk sini deh!” kataku seraya menaikkan pantat ke meja belajar dan mengangkangkan kedua belah paha mulusku.

Kubimbing penisnya ke arah vaginaku yang terkuak lebar, setelah tepat sasaran kusuruh dia menggerakkan pinggulnya ke depan. Bless.. terbenamlah penis itu ke dalamku diiringi desahan nikmat kami.

Tanpa kuajari lagi dia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya maju-mundur, sodokannya walaupun terasa makin mantap tapi rasanya masih ada yang kurang yaitu dia tidak memberi rangsangan pada bagian sensitifku lainnya, maklumlah namanya juga perjaka, masih amatiran.

Aku harus terus berinisiatif mengajarinya, maka kutarik kepalanya mendekati payudaraku yang membusung, kusuruh dia mengeyotnya sepuas hati. Barulah dia mulai berani menjilati dan mengulum payudaraku, bahkan tangan satunya kini aktif menggerayangi payudaraku yang lain.

Entah karena terlalu nafsu atau kelepasan dia gigit putingku yang kanan dengan cukup keras, sampai aku menjerit.

“Aakkhh.. Dan sakit, jangan keras-keras dong!”

Di seberang sana Windi sudah dibuat orgasme entah yang keberapa kalinya. Tak sampai lima menit berikutnya Galang pun mendesah panjang mencapai klimaksnya, dia mencabut penisnya dari vagina Windi dan menumpahkan isinya diatas perut rata Windi.

Merekapun roboh bersebelahan, Windi mengusap-ngusapkan sperma itu ke tubuhnya dan menjilati sisa-sisanya di jari. Dadan masih terus menyodokku dari depan, gairahku makin memuncak saja, vaginaku terasa makin panas akibat gesekan dengan penisnya, suara erangan kami terlarut bersama dengan dentuman musik rock dari komputer.

Bosan dengan posisi ini, dia memintaku ganti gaya. Sekarang kami melakukannya dengan gaya berdiri, aku berpegangan pada tepi meja sambil disodok dari belakang, dengan posisi demikian tangannya lebih bebas menggerayangi payudaraku yang bergantung, putingku dipencet dan dipilin-pilin terkadang agak kasar sampai benda itu mencuat tegang.

“Dan.. tambah cepet dong.. Mbak sudah mau nih..!!” aku mengerang lirih saat kurasakan klimaks sudah diambang.

“Ooohh.. ahh.. saya juga.. kok rasanya tambah.. enak Mbak” sahutnya dengan menambah goyangannya.

“Keluarin di.. dalam.. jangan cabut penis kamu.. ahh” cerita esek esek kataku dengan suara bergetar.
Kamipun mencapai orgasme bersama, tubuhku menggelinjang hebat, aku berteriak seolah mengiringi lagu di komputer, kepalaku terangkat dan mataku merem-melek.

Si Dadan juga mendesah nikmat merasakan orgasme pertamanya bersama seorang wanita. Spermanya menyembur banyak sekali di dalam rahimku, cairan hangat dan kental itu juga membasahi daerah selangkanganku serta sebagian meleleh turun ke pahaku.

Tubuhku lemas bersimbah peluh dan jatuh terduduk di kursi terdekat. Kubentangkan pahaku lebar-lebar agar bagian itu mendapat angin segar, soalnya rasanya panas banget setelah begitu lama bergesekan. Liang kenikmatanku nampak menganga dan sisa-sisa cairan persengamaan masih menetes sehingga membasahi kursi di bawahnya.

“Saya mau lagi dong Mbak, abis vagina Mbak legit banget sih, lagi yah Mbak!” pintanya sambil menggenggam penisnya yang masih tegang itu di dekat wajahku.

“Iyah, tapi nanti yah, Mbak istirahat sebentar,” jawabku sambil mengelap keringat di wajahku dengan tisu. Kulihat Galang bangkit dan mendekatiku, senjatanya sudah dalam posisi siap tempur lagi setelah cukup istirahat. Dia belai rambutku dan meraih tanganku untuk digenggamkan pada penisnya.

“Yuk, Cit.. sambil kumpulin tenaga, kasih senjata gua amunisi dulu dong!” pintanya.

Akupun memijati benda itu diselingi jilatan. Melihat si Dadan yang bengong aku pun menarik tangannya menyuruh berdiri di sisi kananku. Maka dihadapanku sekarang mengacunglah dua batang senjata yang saling berhadapan dan masing-masing kugenggam dengan kedua tanganku. Kugerakkan tangaku mengocok keduanya, mulutku juga turut melayani silih berganti.

Merasa cukup dengan pemanasan, Galang menyuruhku berhenti, dan menyuruhku bangun dulu, lalu dia duduki kursi itu baru menyuruhku duduk lagi di pangkuannya (sepertinya mau gaya berpangkuan deh). Dengan agak kasar dia menyuruh Dadan menyingkir

“Heh, sana lo.. kali ini giliran gua tahu, jangan ganggu lagi!”

“Eee.. sudah jangan galak ah, gitu-gitu juga dia kan yang bantu-bantu kamu orang di sini” sahutku mengelus lengan Galang.

“Dan kamu minta Mbak yang itu aja buat ngajarin kamu,” lanjutku, “Ndah mau yang ajarin dia bentar kan, masih pemula nih.”

Sekarang Dadan tidak segrogi saat pertama main denganku barusan, dia menindih tubuh Windi yang masih terbaring. Windi mengajarinya teknik berciuman, nampaknya Dadan cepat dalam mempelajari teknik-teknik bercinta yang kami ajarkan, sebentar saja dia sudah nampak beradu lidah dengan panasnya bersama Windi.

Tangannya juga kini lebih aktif menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Windi memberi rangsangan. Windi yang gairahnya sudah bangkit lagi merespon dengan tak kalah hebat. Dia berguling ke samping sehingga dia kini di atas Dadan.

Lidahnya tetap bermain-main dengan lidah lawannya sementara tangan lembutnya meraih penis pemuda tanggung itu serta mengocoknya, Dadan mendesah-desah tak karuan menghadapi keliaran Windi. Windi membimbing penis itu memasuki vaginanya, dengan posisi berlutut dia turunkan tubuhnya hingga penis itu melesak masuk ke dalamnya.

Kemudian mulailah dia menaik-turunkan tubuhnya dengan gencar membuat pemuda tanggung itu kelabakan. Kedua tangan Dadan mencengkram kedua payudara Windi dan meremasinya dengan bernafsu.

Di tempat lain aku sedang asyik menggoyangkan tubuhku di pangkuan Galang. Vaginaku dihujam penisnya yang sekeras batu itu. Otot-otot kemaluanku serasa berkontraksi makin cepat memijati miliknya.

Tangannya yang mendekapku dari belakang terus saja menggerayangi payudaraku dengan variasi remasan lembut dan kasar. Kutengokkan wajahku agar bisa berciuman dengannya, lidah kami saling membelit dan beradu dengan panasnya.

Beberapa menit kemudian mulutnya merambat ke telingaku, dengusan nafasnya dan jilatannya membuatku merinding dan makin terbakar birahi. Mulutnya terus mengembara ke tenguk, leher, dan pundakku meninggalkan bekas liur maupun bercak merah.

Tanpa terasa goyangan tubuh kami semakin dahsyat sampai kursinya ikut bergoyang, kalau saja bahannya jelek mungkin sudah patah tuh kursi. Posisi ini berlangsung 20 menit lamanya karena kami begitu terhanyut menikmatinya. Selama itu terdengar dua SMS yang masuk ke ponselku namun tak kuhiraukan agar tak merusak suasana.

Akhirnya akupun tak bisa menahan orgasmeku, tubuhku kembali menggelinjang dahsyat, pandanganku serasa berkunang-kunang. Mengetahui aku akan segera keluar, dia makin bergairah, tubuhku ditekan-tekan sehingga penisnya menusuk lebih dalam, tangannya pun semakin kasar meremasi payudaraku. “Aaahhkk..!” jeritku bersamaan dengan lagu mp3 yang hampir berakhir.

Kugenggam erat lengan Galang dan menggigit bibir merasakan gelombang dahsyat itu melanda tubuhku. Aku merasakan cairan cinta yang mengalir hangat pada selangkanganku. Akupun akhirnya bersandar lemas dalam dekapannya, penisnya tetap menancap di vaginaku, nafas kami tersenggal-senggal dan keringatpun bercucuran dengan derasnya.

Kemudian dia angkat tubuhku hingga penisnya tercabut, tangan satunya menyelinap ke lipatan pahaku. Diangkatnya tubuhku dengan kedua lengan, aku menjerit kecil saat dia tiba-tiba menaikkanku ke lengannya karena kaget dan takut jatuh.

Dibawanya aku ke ranjang lalu diturunkan di sana, nafasku belum teratur sehingga nampak sekali dadaku turun naik seperti gunung mau meletus. Tepat disebelah kami Dadan sedang menindih tubuh telanjang Windi dengan gerak naik-turun yang cepat. Windi hanya bisa menggelinjang dan mendesah, rambut panjangnya sudah kusut tak karuan, matanya menatap kosong pada kami.

“Lagi yah Ci, dikit lagi tanggung gua belum keluar nih,” pinta Galang sambil merenggangkan kedua pahaku.

Aku hanya pasrah saja mengikuti apa maunya. Dengan lancar penisnya yang sudah basah dan licin itu meluncur ke dalam vaginaku, aku mendesis dan meremas sprei saat dia hentakkan pinggulnya hingga seluruh penisnya masuk.

Lagu dari komputer entah sudah berganti berapa kali, kali ini yang mengalun adalah lagunya Aerosmith yang dipakai soundtrack film ‘Armageddon’nya Bruce Willis. Lagu ini mengiringi permainan kami dalam babak ini.

Perkasa juga si Galang ini, dia masih sanggup menggenjotku dengan frekuensi tinggi sampai tubuhku terguncang hebat, padahal sebelumnya dia sudah membuatku dan Windi orgasme, kekuatannya jauh lebih meningkat dibanding ketika pertama kali one night stand denganku setahun lalu. Aku menggenggam tangan Windi dan bertatapan wajah dengannya

“Sudah berapa kali Ndah?” tanyaku bergetar

“Nggak tahu.. sudah aahh.. keenakan.. nggak hitung.. lagi,” jawabnya dengan mata merem melek.

Aku makin tak terkontrol, kepalaku kugelengkan ke kiri-kanan, sesekali aku menggigit jari saking nikmatnya kocokan Galang.

Dia mempermainkan birahiku dengan sengaja tidak menyentuh payudaraku membiarkannya bergoyang-goyang seirama badanku, sehingga aku sendiri yang berinisiatif meraih tangannya dan meletakkannya di payudaraku, barulah dia mulai memencet-mencet putingku membuatku semakin terbakar. Akhirnya akupun sudah tidak kuat lagi, perasaan itu kuekspresikan dengan sebuah erangan panjang dan menarik sprei di bawahku hingga berantakan.

“Sudah dulu dong, Mas.. gua gimana bisa kuliah ntar!” pintaku dengan terengah-engah.
Tubuhku basah seperti mandi saja, habis AC kamarnya lagi rusak sih, sementara ini cuma ada kipas angin berukuran sedang, sedangkan iklim di Jakarta tahu sendiri kan seperti apa gerahnya.

Paham dengan kondisiku, dia biarkan aku beristirahat, dikecupnya bibirku dengan lembut disertai sedikit kata-kata manis dan pujian, setelah itu dia beralih ke Windi untuk menuntaskan hajatnya yang tinggal sedikit lagi. Kuseka dahiku yang bercucuran keringat lalu kulirikkan arlojiku, 20 menit lagi jam tiga, harus segera siap-siap kembali ke kampus.

Windi yang sedang dalam posisi dogie digarap dari dua arah oleh mereka. Dadan yang menyodoknya dari belakang akhirnya klimaks, dia mengeluarkan penisnya dan menyiramkan isinya di punggung dan pantat Windi.

Si Galang yang sedang menyetubuhi mulut Windi juga tak lama kemudian menyusul, dia mengerang sambil menahan kepala Windi pada penisnya. Windi sendiri hanya bisa mengerang tertahan dan matanya merem melek menerima semprotan sperma Galang, nampak cairan putih itu meleleh sedikit di pinggir bibir mungilnya.

Galang ambruk di sisiku dengan memeluk Windi yang menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya, si Dadan terduduk lemas di bawah ranjang (karena ranjang sudah penuh sesak). Setelah tubuhku cukup stabil, pelan-pelan aku bangkit menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Disana aku mencuci muka, dan membersihkan ceceran sperma di tubuhku dengan air. Windi masuk ketika aku sedang duduk di toilet buang air kecil.

“Huh.. ngagetin aja kamu Dah, rambut acak-acakan kaya kuntilanak gitu lagi!” ujarku.

“Kuntilanak bajunya putih oi, nggak bugil gini,” jawabnya asal, lalu menyalakan kran wastafel.

Setelah selesai berbenah diri, kami mengenakan kembali pakaian kami untuk kembali kuliah. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga, maka itu kami agak terburu-buru sampai aku melupakan ponselku sehingga pulang kuliah aku harus balik lagi ke sini untuk mengambilnya.

Kami berlari-lari kecil ke kampus, mana ruang kuliahku di lantai tiga lagi, aku sampai ke kelas terlambat lima menit, untung belum melebihi toleransi keterlambatan. Di kelas pun aku tidak bisa fokus karena selain masih lelah, dosennya, Pak Iwan ngomongnya juga slow motion, bikin ngantuk saja sehingga beberapa kali aku menguap. Temanku di sebelah bahkan bertanya

“Baru bangun tidur kamu Ci? Kok kusut gitu” karena make up ku memang agak luntur waktu cuci muka tadi. “Iyah nih masih ngantuk tadi di kost temen belum cukup tidurnya,” jawabku tersenyum dipaksa.
Lelah sekali hari itu sehingga begitu sampai di rumah aku langsung tiduran dan bangun jam tujuh malam, baru mandi untuk bersiap-siap menunggu jemputan Verna dan lainnya untuk nge-dugem di salah satu tempat favorit kami.

PIN BBM (BLACKBERRY) : 7BBCF604
NO TEL               : +855 16 675386
WHATSAPP             : +855 16 675386
WECHAT               : kudusgroup
LINE                 : kudusgroup
EMAIL                : kudusgroup@gmail.com
YAHOO MESSENGER      : cs.djarumgrup
 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.